Kolom

Muhammadiyah InsyaAllah Tangguh

Opini Muhammadiyah Jabar–

Agenda pokok Muktamar Muhammadiyah ke-48 di Surakarta di samping menyusun program, penetapan Risalah Islam Berkemajuan, serta isu-isu Strategis, adalah pemilihan Pimpinan Pusat periode 2022-2027.

Muktamar yang dilaksanakan dua tahun sebelum hajat politik khususnya pemilihan presiden (Pilpres) dinilai rawan dari berbagai kepentingan.

Siapapun yang  akan memerintah negara RI untuk periode 2024-2029 tentu merasa perlu dengan warna atau sikap politik kepemimpinan Muhammadiyah terpilih.

Adalah wajar jika banyak pihak khawatir adanya intervensi untuk jabatan Ketua umum maupun jajaran kepemimpinan Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada Muktamar tersebut. 

Ini disebabkan banyak musyawarah Ormas terjadi pengkutuban atau friksi tajam dalam pemilihan Ketua Umumnya. Kekuasaan pun ikut bermain.

Muhammadiyah memiliki tata cara pemilihan yang spesifik dengan pola penyaringan bertingkat.

Dari pengajuan awal berapapun jumlahnya akhirnya dipilih dan ditetapkan oleh Sidang Tanwir menjadi 39 Calon anggota Pimpinan.

Dalam arena Muktamar, peserta memilih dari 39 orang tersebut menjadi 13 anggota Pimpinan. 13 anggota terpilih menetapkan Ketua Umum. Pola seperti ini sulit ditembus oleh politik uang maupun kekuasaan.

Peserta Muktamar baik dari Daerah, Wilayah maupun unsur Pusat dibekali dengan nilai-nilai kejuangan ideologi Muhammadiyah, sehingga datang ke Muktamar bukan untuk sekedar memilih Ketua Umum, melainkan kepemimpinan kolektif.

Tidak ada sikap otoritarian kekuasaan dalam Muhammadiyah. 13 orang bersama-sama bermusyawarah menyusun “kabinet” dan bekerja secara kolegial.

Ada usul bahwa dalam Muktamar ke-48 esok jumlah anggota Pimpinan Pusat yang dipilih menjadi 17 orang. Usul yang rasional dan sesuai dengan perkembangan.

Hanya untuk itu diperlukan perubahan AD/ART terlebih dahulu. Mungkin berlaku untuk periode berikut.

Akan tetapi AD/ART saat ini sudah membuka peluang bagi adanya anggota Pimpinan tambahan. Direkrut dari personal 39 orang terpilih dalam Sidang Tanwir. Hal itu bila ke 13 anggota Pimpinan menganggap perlu.

Dengan sistem yang ada maka polarisasi tidak akan terjadi. Konflik dapat diminimalisir dan kapasitas serta profesi dapat beragam sesuai dengan aspirasi peserta Muktamar.

Isu penyegaran dapat direspon baik dalam kategori personal lama dan baru, tua dan muda, atau keragaman profesi dan kapasitas.

Peserta dan penggembira datang ke arena Muktamar dengan semangat untuk berkorban demi silaturahmi bukan untuk mendapatkan sesuatu apalagi materi.

Peserta Muktamar akan dengan cepat menolak politik uang karena ideologi Muhammadiyah mengharamkannya. Bahasa membantu transportasi dipahami menjadi bagian dari politik uang jika berhubungan dengan pemilihan. Haram hukumnya.

Para calon anggota Pimpinan Pusat tentu meyakini bahwa jabatan itu bukan kesenangan, tetapi ujian yang berakibat kemuliaan dan kehinaan dirinya dimata Allah SWT.

Ambisi adalah sebab dari kesulitan sementara kepercayaan menjadi jalan kemudahan (Nashrun minallah), dan penunaian amanah merupakan sebab dari kemenangan dan kebahagiaan (Fathun qoriib).

Dengan berbagai Amal Usaha Muhammadiyah yang terus meningkat maka shaff perjuangan akan semakin kokoh. Keumatan yang mengakar. Benteng pertahanan pun semakin kuat.

Muktamar Muhammadiyah adalah konsolidasi strategis bagi pengembangan organisasi.

Muhammadiyah insyaAllah tangguh.

*Penulis: M Rizal Fadillah

Editor: Aqbil WAK

Tampilkan Lebih Banyak

mpijabar

Akun dari MPI Jawa Barat 2015-2020

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Cek juga
Close
Back to top button