Kolom

DR. Yusef Rafiqi, In Loving Memory

Oleh: Yandi ketua PCM Ciawi

Tak terasa dua puluh empat hari sudah Ust. Yusef Rafiqi berpulang, sabtu 18 april 2026 lalu, meninggalkan kita untuk selama-lamanya. Untuk itu perkenankan penulis berbagi kenangan kecil, some pieces of memories, selama mengenal, berinteraksi dan menjalin silaturahmi dengan almarhum. Meskipun terhitung singkat karena sampai beliau tiada penulis baru mengenalnya selama lima tahun. Diantara singkatnya waktu tersebut serpihan kenangan itu tetap menggema. Dan penulis mencoba meng-highlight-nya sebagai “final tribute” untuk mengenang beliau.

Masih terngiang saat jumpa pertama dengan Ust. Yusef Rafiqi. Waktu itu beliau datang untuk mengisi acara kajian I’tikaf Ramadlan yang diselenggarakan oleh PCM Ciawi, mei 2021. Kebetulan PCM Ciawi baru saja bergabung dengan PDM Kabupaten Tasikmalaya, yang sebelumnya ikut PDM Kota.

Di awal perkenalan penulis terkesan dengan pembawaanya yang santai, tidak kaku, hangat dan friendly. Demikian pula saat penyampaian materi. Gaya bertuturnya menarik, sistematis dan runtut menggambarkan latar belakangnya sebagai seorang akademisi. Durasi selama dua jam pun tidak terasa karena diskusi yang hidup dengan jamaah terutama antusiasme bapak -bapak.

Seiring waktu perjumpaan pun semakin sering. Kami bertemu dalam berbagai event, baik forum formal berupa pengajian maupun acara – acara resmi yang diadakan oleh pesantren Attajdid, tempat dimana beliau mengabdikan diri sebagai Mudir hingga akhir hayat. Juga pada event lain dengan vibes yang lebih santai, yaitu acara “Ngopi Bareng” , ruang diskusi dan bertukar pikiran khususnya bagi para kader Tasik Utara dengan tuan rumah PCM Rajapolah.

Dalam rentang waktu lima tahun ini beliau berkesempatan mengisi beberapa kali pengajian bulanan dan reboan baik PCM maupun PCA Ciawi. Sudah menjadi kebiasaan penulis setiap bertemu beliau selalu berusaha menggali insight-nya tentang isu- isu hangat seputar Muhammadiyah. Kadang apa yang tidak diberitakan di media resmi Muhammadiyah baik cetak maupun digital, penulis dapatkan infonya dari almarhum. Beliau memiliki akses, mengingat istrinya teh Neni Nur Hayati adalah seorang aktifis dan anggota salah satu Majelis di PP. Muhammadiyah.

Pernah dalam sebuah kesempatan sekira satu tahun lalu, kami berbincang tentang pertemuan kaum muda Muhammadiyah di Yogyakarta yang tergabung dalam Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah ( JIMM ). Beliau menyatakan keprihatinannya pada cara berpikir kaum muda yang menganggap isu LGBT adalah soal kebebasan dan HAM.

Muhammadiyah selain sebagai sebuah organisasi juga sebuah entitas pemikiran. Dan berbicara tentang wacana pemikiran di Persyarikatan selalu menarik. Meskipun mainstream-nya Muhammadiyah itu moderat, washatiyah alias tengahan tapi selalu ada riak-riak kecil.

Pertama, kelompok liberal yang terdiri dari kaum intelektual muda Muhammadiyah. Mereka menekankan kebebasan akal dan penafsiran ulang teks agama secara kontekstual. Memisahkan mana yang sakral (absolut) dan mana yang historis- kontekstual (relatif). Kedua, mereka yang mengusung cara berpikir konservatif-puritan. Kelompok ini cenderung menekankan aspek pemurnian ajaran Islam (purifikasi) secara lebih ketat dan skripturalis.

Di lain waktu beliau diundang sebagai nara sumber kajian bulanan yang bertempat di Masjid Besar Syulatul Iman Kec. Ciawi. Selesai acara sambil menikmati teh dan makanan ringan ala kadarnya, kami duduk sambil ngobrol. Di tengah obrolan tiba – tiba beliau mengeluarkan buku karangan Ketum. PP Muhammadiyah prof.Haedar Nashir, yang berjudul ” Memahami Ideologi Muhammadiyah”. Sambil menyodorkan buku bersampul hitam tersebut beliau berujar : ” Nih, buat pak Yandi “. Mendapat kejutan yang menyenangkan seperti itu tentu segera disambut, ” Oh terimakasih tadz, ini beneran buat saya? Lalu ditegaskannya lagi, ” Iya tapi itu bukunya sdh agak lecek.” Penulis pun menjawab, “Tidak apa-apa tadz, saya belum punya buku ini.”

Buku setebal 260 halaman ini sejatinya harus menjadi bacaan wajib bagi para aktifis Muhammadiyah. Di tengah derasnya tawaran paham dan ideologi di luar Muhammadiyah kehadiran buku ini merupakan asupan “nutrisi” yang makin meneguhkan dan menguatkan ghirah perjuangan dan militansi kader.

Kata orang menghadiahkan buku berbeda dari hadiah lainnya. Selain sebagai afeksi personal juga menunjukkan kedekatan intelektual dan emosional. Menghadiahkan buku berarti menghadiahkan pikiran yang menjadi jembatan percakapan. Pemberian buku merupakan “reminder” abadi saat buku dibaca nama dan ingatan pemberinya akan selalu hadir menyertai.

Acara Tarhib Ramadlan-PDM Kab. Tasikmalaya yang bertempat di Masjid Agung Baiturahman akhir Januari lalu, rupanya menjadi pertemuan terakhir. Saat itu penulis sengaja mencari beliau karena ada perasaan tidak enak. Beberapa waktu sebelumnya beliau meminta kesediaan penulis untuk menjadi Dewan Penasehat Pesantren At Tajdid. Namun dengan berat hati penulis menjawab tidak bersedia. Dengan alasan ingin fokus mengurus cabang Ciawi yang masih “struggling”, dan beliau bisa memaklumi. Penulis merasa lega karena telah menyampaikan alasan ketidaksiapan dan permohonan maaf secara langsung.

Di momen itu beliau bercerita tentang keponakannya yang menjadi mahasantri di Pondok Shabran yang dikelola oleh Universitas Muhammadiyah Solo ( UMS). Namun yang membuat penulis terkejut dari ceritanya adalah sang keponakan menuturkan tentang teman mahasantrinya banyak yang bercelana pungsat alias cingkrang. Sebagaimana kita ketahui Pondok Hajjah Nuriyah Shabran adalah lembaga pendidikan kader Muhammadiyah yang bertujuan untuk mencetak calon ulama tarjih dan tabligh melalui program beasiswa penuh bagi mahasantri putra utusan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) se-Indonesia.

Dalam pandangan penulis “para benalu” Muhammadiyah ini gerakannya sudah tidak seagresif dulu, tapi ternyata keliru. Jika benar adanya, ini menunjukkan infiltrasi Salafy di tubuh Muhammadiyah belum benar-benar hilang. “Semoga saja ini bisa cepat ditangani oleh para pengasuhnya,” ujar penulis sambil berpamitan.

Self-Fulfilling Prophecy

Kabar meninggalnya Ust. Yusef Rafiqi -diatas sajadah saat sedang melaksanakan shalat malam – terasa sangat mengejutkan semua orang, termasuk penulis. Di hari itu doa dan ucapan duka cita bertebaran di grup. Namun pandangan penulis tiba- tiba tertuju pada sebuah postingan video yang menampilkan almarhum bersama tiga lainnya menyenandungkan sebuah lagu yang belum pernah penulis dengar.

Muncul pertanyaan apakah gerangan hubungan lagu ini dengan almarhum? Menjelang tengah malam sebuah postingan di grup menjadi jawabannya. Itulah “Sajadah Bisu” karya Ust. Yusef.

Tidak paham bagaimana lagu bernuansa religi dengan bait – bait lirisnya ini bisa terlahir. Bagi penulis Sajadah Bisu ini sangat “heart melting”, begitu menyentuh. Lagu ini merefleksikan pesan spiritual yang amat dalam. Komposisi liriknya terasa menggetarkan. Bagaimana tidak menggetarkan karena apa yang beliau goreskan di bagian akhir lagu ini 18 tahun lalu ( 2008) “Sajadah bisu terhampar untukku” merupakan sebuah ” ramalan” yang akhirnya menjadi nyata. Dalam keheningan seorang diri, di sepertiga malam yang sunyi beliau menghadap ke haribaan Ilahi dengan cara yang indah dimana sajadah menjadi saksi bisu dalam arti senyatanya.

Dalam ungkapan bahasa Inggris inilah yang disebut sebagai ” Self-fulfilling Prophecy” yaitu suatu kondisi di mana keyakinan atau ekspektasi seseorang terhadap suatu situasi secara tidak langsung memicu perilaku yang membuat keyakinan tersebut menjadi kenyataan.

Innalillahi wa inna ilaihi raaji’uun. Selamat jalan Ust. Yusef Rafiqi. May Allah grant you with the highest level of jannah.

Tampilkan Lebih Banyak

mpijabar

Akun dari MPI Jawa Barat 2015-2023

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button