Kabar PersyarikatanKolom

Menjadi Rumah Bagi Digital Natives: Transformasi Dakwah Berkemajuan di Era Disrupsi

Oleh: Waway Qodratulloh S*

Fenomena “Log-in Muhammadiyah” yang belakangan ini viral di berbagai platform digital bukanlah sekadar tren sesaat atau gimik algoritma media sosial.

Fenomena ini menunjukan adanya pergeseran paradigma yang sangat mendasar dalam cara Gen Z memandang identitas keagamaan mereka.

Jika generasi pendahulu cenderung beragama karena faktor keturunan atau tradisi keluarga, Gen Z justru melakukan “log-in” berdasarkan kesadaran rasional dan pilihan personal yang matang.

Mereka kini menemukan validasi spiritual melalui sistem organisasi yang transparan, fungsional, dan relevan dengan napas zaman yang serba cepat.

Faktor Pendorong

Pergeseran ini secara sosiologis dipicu oleh karakter unik Gen Z yang tumbuh sebagai penduduk asli dunia digital dengan akses informasi tanpa batas.

Mereka memiliki skeptisisme yang sehat terhadap hal-hal yang dianggap tidak logis atau terlalu birokratis.

Di titik inilah Muhammadiyah hadir dengan tawaran Islam yang lugas, berbasis dalil yang kuat, namun tetap adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan.

Pendekatan tajdid atau pembaruan yang menjadi jati diri persyarikatan dipandang selaras dengan pola pikir anak muda yang selalu haus akan efisiensi dalam setiap aspek kehidupan.

Faktor pendorong utama lainnya adalah ketersediaan infrastruktur nyata yang dikelola secara profesional, seperti jaringan Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) yang tersebar luas.

Data menunjukkan lonjakan signifikan mahasiswa baru di berbagai wilayah, mulai dari UM Sukabumi yang mencatatkan kenaikan hampir delapan puluh persen hingga konsistensi puluhan ribu pendaftar di UM Purwokerto.

Dengan demikian Gen Z memandang Muhammadiyah sebagai sebuah ekosistem pendidikan dan pemberdayaan yang memberikan dampak konkret bagi masa depan karier dan pengembangan diri mereka secara profesional.

Selain faktor pendidikan, kemudahan akses administrasi melalui digitalisasi menjadi magnet tersendiri bagi generasi yang anti-ribet ini.

Kehadiran aplikasi MASA (Muhammadiyah Satu Aplikasi) dan sistem e-KTAM memungkinkan proses “log-in” secara administratif dilakukan hanya dalam beberapa klik dari ponsel pintar mereka.

Fenomena ini membuktikan bahwa Muhammadiyah berhasil merespons kebutuhan Gen Z akan kemudahan birokrasi.

Mereka merasa bahwa masuk ke dalam sebuah organisasi besar tidak harus melalui prosedur manual yang melelahkan, melainkan bisa dilakukan dengan cara yang modern dan sangat terintegrasi.

Jika kita membedah lebih dalam, karakter Gen Z memiliki toleransi yang sangat rendah terhadap inefisiensi dan otoritarianisme dalam berorganisasi. Mereka lebih menyukai model kepemimpinan yang cair, dialogis, dan kolaboratif.

Muhammadiyah, dengan sistem kolektif-kolegialnya, memberikan ruang yang lebih demokratis bagi perbedaan pendapat. Hal ini membuat anak muda merasa dihargai sebagai individu yang memiliki suara, tidak melulu sebagai objek dakwah yang harus selalu tunduk pada otoritas tertentu.

Aspek filantropi juga menjadi daya tarik yang sangat kuat, mengingat Gen Z adalah generasi yang memiliki kepedulian sosial dan kemanusiaan yang sangat tinggi.

Mereka melihat kerja nyata Lazismu dan ketangkasan relawan MDMC dalam menangani bencana sebagai bentuk keberagamaan yang paling autentik dan dibutuhkan saat ini.

Bagi mereka, kesalehan tidak lagi hanya diukur dari panjangnya doa di dalam masjid, tetapi dari seberapa cepat bantuan sampai ke tangan mereka yang membutuhkan.

Semangat Al-Ma’un yang diajarkan KH Ahmad Dahlan menemukan momentumnya kembali di tangan generasi yang mencintai aksi nyata.

Islam Berkemajuan yang diusung Muhammadiyah pun bertransformasi menjadi sebuah gaya hidup atau lifestyle yang membanggakan bagi anak muda.

Narasi yang mendukung penguasaan teknologi, pelestarian lingkungan hidup, dan kesetaraan gender membuat mereka merasa bisa tetap religius tanpa harus terlihat kuno atau tertinggal.

Mereka bisa menjadi aktivis lingkungan sekaligus kader Muhammadiyah, atau menjadi pengusaha rintisan digital tanpa kehilangan jati diri keislamannya.

Fleksibilitas identitas inilah yang membuat proses “log-in” menjadi sebuah kebanggaan baru di kalangan pelajar dan mahasiswa masa kini.

Pekerjaan Rumah bagi Persyarikatan

Persyarikatan tidak boleh lantas terlena dengan angka-angka pertumbuhan yang menggembirakan ini tanpa melakukan evaluasi yang mendalam.

Sebagai respon strategis, kita perlu terus melakukan rebranding ruang-ruang dakwah agar tidak hanya terkurung dalam mimbar formal yang terkadang terasa menjemukan bagi anak muda.

Dakwah harus mulai masuk ke dalam komunitas hobi, ranah e-sport, hingga ruang-ruang diskusi kreatif dengan narasi yang lebih segar.

Kita harus memastikan bahwa konten dakwah yang diproduksi memiliki nilai estetika visual yang tinggi sesuai standar konsumsi media sosial mereka.

Selain itu, sangat penting bagi Muhammadiyah untuk memberikan ruang strategis bagi anak muda dalam struktur pengambilan kebijakan di berbagai tingkat kepemimpinan.

Gen Z ingin menjadi subjek yang aktif berkontribusi, sehingga pelibatan mereka dalam proyek-proyek inovasi organisasi akan meningkatkan rasa memiliki yang lebih kuat.

Kita tidak ingin tren “log-in” ini hanya menjadi fenomena sesaat yang kemudian diikuti oleh gelombang “log-out” massal karena mereka merasa aspirasinya tidak didengar.

Transformasi organisasi harus berjalan seiring dengan perkembangan aspirasi dan kebutuhan unik yang dibawa oleh generasi baru ini.

Pada akhirnya, fenomena “log-in” Muhammadiyah di kalangan Gen Z adalah peluang emas untuk melakukan kaderisasi berkelanjutan di era disrupsi digital.

Dengan memadukan perangkat keras berupa amal usaha yang kokoh dan perangkat lunak berupa pendekatan dakwah yang relevan, Muhammadiyah akan terus menjadi rumah yang nyaman.

Tugas kita sebagai penggerak adalah memastikan bahwa setiap anak muda yang “log-in” menemukan makna dan tujuan hidup yang lebih besar di dalam persyarikatan.

Mari kita sambut generasi matahari ini dengan tangan terbuka dan semangat kolaborasi demi masa depan dakwah yang lebih mencerahkan. Nasrun minallah wa fathun qarib.

*Dewan Pakar Lembaga Dakwah Komunitas PWM Jawa Barat

Tampilkan Lebih Banyak

mpijabar

Akun dari MPI Jawa Barat 2015-2023

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button