
Oleh: Ace Somantri*
Pendidikan pusat dan simbol perubahan, manusia di mana pun wajib memiliki pengetahuan tanpa ada alasan apa pun untuk menghindari. Tuntutan dalam diri setiap individu, berupaya keras menimba ilmu pengetahuan sekaligus wawasan dan kemampuan teknologi.
Peradaban dibangun atas dasar ilmu pengetahuan, dari sejak Nabi Adam sampai penutup para nabi dan berakhirnya alam semesta. Dengan ilmu pengetahuan, semua dapat dicapai, selama pemilik kehendak dapat menghendaki. Jelas dan tegas ungkapan Rasulullah bahwa siapa pun manusia di muka bumi ini meraih kesuksesan dunia dan akhirat, maka hanya dengan ilmu pengetahuan.
Sehingga konsekuensi dari kalimat tersebut, selanjutnya dipertegas dengan ungkapan beliau lainnya, kewajiban menuntut ilmu pengetahuan hingga sampai ke liang lahad (kematian).
Ilmu pengetahuan identik dengan pendidikan, maka Muhammadiyah sangat visioner pergerakannya saat dilahirkan menjadi fokus gerakanya pada dunia pendidikan. Jelas lebih maju dari ormas Islam lainnya. Bergerak tak berhenti di situ, hanya mendirikan sekolah, tetapi menambah banyak gerakan layanan sosial yang berorientasi pada keumatan dan kemanusiaan.
Namun, tetap disadari dan diakui berangkat dari pendidikan semua jenis, bentuk, dan varian gerakan sosial bersumber dari pendidikan yang dikelola sungguh-sungguh, karena manusia meningkat kesadarannya manakala ada peningkatan pengetahuan dalam status pendidikannya.
Sekalipun dalam realitanya masih ada saja kesadaran individu tidak berbanding lurus dengan tingkat status pendidikan yang dimiliki. Hal itu kembali pada kondisi diri dan lingkungan yang membentuk dan mengembangkan karakter integritas diri.
Pendidikan sebagai dasar, itu mutlak karena manusia tanpa pendidikan akan sulit melakukan perubahan untuk lebih baik pada dirinya.
Catatan penting di era abad digital dan masa yang akan datang, pendidikan Indonesia selama beberapa dekade ini, kesadaran seluruh lapisan masyarakat dan kepedulian negara, telah membuka ruang lebih terbuka sehingga ada program sekolah gratis.
Begitupun bagi masyarakat pada umumnya kesadaran pendidikan menjadi sebuah kewajiban yang mutlak, terlihat stratifikasi pendidikan terus meningkat seiring waktu.
Apa catatan yang masih menjadi pekerjaan rumah bangsa Indonesia, fakta dan data sudah menyentuh ke angka sebelas persen penduduk yang mampu menamatkan hingga perguruan tinggi dalam laporan di Goodstats pertanggal 16 Februari 2026.
Dari jumlah data tersebut, dapat kita bayangkan jika total penduduk Indonesia saat ini perkiraan di angka 280 jutaan, maka 30 jutaan penduduk Indonesia lulusan perguruan tinggi.
Pertanyaannya, apakah lulusan tersebut mampu ikut turut serta melakukan perubahan masyarakat, bangsa, dan negara Indonesia? Hal itu terjawab dengan realita dan fakta yang terlihat kasat mata.
Sehingga penting bagi seluruh penggerak persyarikatan Muhammadiyah ke depan, tidak terlena dengan opini membangga-banggakan jumlah amal usaha dan aset yang tersebar diseluruh negeri.
Ada yang paling penting untuk segera berkolaborasi dengan pemerintah mempersiapkan menghadapi dinamika dunia yang semakin agresif.
Paling tidak, perang Iran versus Amerika dan Israel menjadi ibrah bahwa kapan saja bisa terjadi terhadap Indonesia. Kita lihat Iran, dengan puluhan tahun diembargo, tetapi pada saat negaranya diganggu pihak luar, ternyata telah memperlihatkan kemampuan sains dan teknologi yang stara dengan negara-negara maju di dunia.
Mereka tidak mengeluh, ditekan malah balik menekan, dan juga manakala diancam justru balik mengancam. Begitupun saat di atas meja perundingan, Iran memegang prinsip kedaulatan harga mati.
Tidak peduli embargo, baginya ada istilah “banyak jalan menuju Roma” yang tidak pernah takut dan bergeming dari gertakan-gertakan negara penjajah. Mereka gigih pantang menyerah, kreativitas dan inovasi berkemajuan kata kunci menembus kebebasan dan kemandirian.
Harga mati bagi pendidikan Muhammadiyah harus mampu menembus kedaulatan persyarikatan. Pola, model, dan gerakan pendidikan harus belajar kepada negara Iran. Terlepas sering muncul pro kontra adu domba politik belah bambu kaum kapitalis Barat dengan narasi Suni versus Syiah yang sangat klasik dan berkemunduran.
Iran dengan nilai nol dari nilai tukar mata uangnya, tetapi fakta mereka memiliki kedaulatan energi, politik, dan ekonomi yang membuat negara-negara kawasan tak gemetar saat berhadapan.
Apalagi setelah melihat perang saat ini, jangankan negara kawasan Timur Tengah yang berpikir ulang untuk berhadapan dengan Iran, negara-negara Eropa pun saat ini, menghitung ulang kalkulasi matematika geopolitiknya.
Hal itu terbukti negara Eropa sebagian besar negara Nato, tidak ikut terlibat ajakan Presiden Trump berkoalisi menggempur Iran.
Artinya, Iran sangat diperhitungkan oleh negara-negara di dunia, itu semua karena Iran memiliki model dan pola pendidikan yang dinamis dan konstruktif bagi masyarakatnya sehingga tingkat semangat prestasi lebih cepat maju.
Selama ini kita mendewakan pendidikan barat, ideologi demokrasi telah menghujam menjadi platform berbangsa dan bernegara. Tidak salah, diakui faktanya mereka maju dan berkembang berbagai kehidupan bangsa dan negara.
Namun, dalam konteks Indonesia harus ada formula yang lebih genuine untuk membuat formulasi rahasia yang mampu mengubah bangsa dan negara ini berdaulat.
Faktanya, saat negara kita akan mandiri membuat sumber daya alam “teknologi dibuat mahal” dengan cara sendiri negara Barat protes dengan dalih lingkungan rusak dan pemanasan global.
Seperti benar, padahal, mereka mengkebiri Indoensia. Akhirnya, nikel kita dijual mentah dengan harga murah yang nilainya stara dengan gratisan dan kita lagi-lagi menjadi bangsa dan negara kuli di atas tanah sendiri.
Sementara itu, mereka meraup keuntungan setinggi-tingginya seperti pemilik lahannya sendiri, sesekali bicara untuk memberi harapan palsu boleh, negara Indonesia transfer teknologi, padahal sekedar bagi-bagi sisa dari sisa hasil usaha.
Jika fenomena itu terus dipelihara, pendidikan Indonesia hanya tumpukan administrasi semata. Ijazah sekadar sertifikat dan gelarnya menjadi hiasan dalam label kartu kerja dan kuli.
Seharusnya ijazah menjadi simbol kemandirian dan membangun kedaulatan diri, di sisi lain malah cukup menggelitik dan ironis isu yang tak pernah berhenti di layar kaca media sosial, ternyata lebih laku sertifikat pendidikan yang tidak jelas dari lembaga mana sertifikat itu terbitkan.
Muhammadiyah satu-satunya harapan umat, bangsa, dan negara untuk mengembalikan sejarah Nusantara yang pernah berjaya pada abad ke-7 hingga abad ke-14. Kala itu Sriwijaya menguasai maritim yang berjaya dengan waktu kurang lebih selama 5 abad menjadi pemain penting dalam perdagangan antara India, China, dan Asia Tenggara.
Hari ini Muhammadiyah menjadi pemain penting dalam perubahan sosial melalui gerakan pendidikan, ribuan mahasiswa atau pelajar yang dilahirkan dari perut sekolah dan kampus pendidikan milik persyarikatan.
Kedaulatan dan kemandirian Muhammadiyah sudah terlihat dan dapat dirasakan walaupun masih jauh dari ideal. Sementara negara dengan segala kekuatannya belum mampu mendobrak paradigma pendidikan yang mempercepat positioning bangsa dan negara menjadi negara yang berdaulat secara politik, ekonomi, dan berdaulat dalam bidang sains dan teknologi.
Terbukti, saat uji TKA STEM usia sekolah hasilnya masih di bawah standar. Upayanya, selama ini negara masih terjebak dengan dinamika politik nasional yang absurd penuh tipu daya yang membuat dinamisasi pendidikan Indonesia tertinggal jauh dari negara-negara maju.
Sekali lagi, Muhammadiyah wajib terdepan dengan segala resikonya memantaskan diri tampil beda memberi spirit perubahan paradigma pendidikan Indonesia membangun kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Aamiin.
*Waki Ketua PWM Jawa Barat






