Kabar Persyarikatan

Bola dan Spiritualitas

Oleh: A.R. Nugraha

Jika saja anda bola mania, pecinta bola yang tulus, yang tidak saja nonton saat musim liga dan anda bukan kelompok yang hanya ikut-ikutan saat orang berjingkrak, emosi atau sujud syukur saat meraih kemenangan, itulah fenomen sepakbola yang sesungguhnya.

Ada sihir bola yang begitu besar mengintervensi jiwa manusia. Manusia bisa saja lupa diri atau begitu masygul setelah pertandingan berakhir.

Sebagaimana di negeri samba, italiano, negeri-negeri balkan, bilkhusus England tanah pertama yang mempopulerkan sepakbola seperti yang dikenal saat ini, maka Indonesia adalah tanah bola yang sesungguhnya.

Sepakbola di tanah air ini nasih belum bisa dikalahkan oleh olah raga lain, hatta bulutangkis dimana Indonesia pernah merajai all england, thomas cup, dan jawara-jawara dunia secara individual.

Persib adalah cerita lain, sebab tim inilah yang seolah-olah menjadi satu-satunya milik negeri pasundan, timnya Jawa Barat, yang tidak hanya dicintai orang Sunda, bahkan sudah milik dunia, setidaknya terkenal di dunia maya yang benar-benar mendunia.

Persib adalah legenda dengan lima mahkota di sepakbola modern dan mahkota direngkuh di masa-masa lampau terutama zaman persarikatan. Persib menjadi salah satu klub yang paling senior di tanah air.

Anak-anak kampung bertemu dengan pemain kelas dunia, sebagian sudah menjadi WNI naturalisasi berkolaborasi secara apik, pelan dan pasti, maka Persib masih paling atas di level nasional, untuk selanjutnya dinantikan prestasinya di kancah asean, asia, bahkan antar klub dunia.

Inilah raja lokal yang menasional sebagai fenomena sosial tak terbantahkan.

Kemenangan hatrick di akhir bulan Mei 2026 ini adalah jawaban atas fenomena besar di tanah pasundan yang melegenda. Bak lebaran baru, setidaknya sepekan terakhir, para bobotoh dan orang pecinta bola mencari jersey dan merchandise Persib di toko, gerai, dan di pasar-pasar dadakan.

Berapa pun harganya tak jadi soal, asal masih ada budget tanpa ba bi bu mereka beli sebagai identitas sosial, seraya berucap, “Aku adalah bagian dari perayaan kemenangan.”

Peluit belum ditiup, kick off masih tersisa beberapa jam Jersey dan merchandise hampir tak tersisa, plus banyak orang menjadi kreatif untuk membuat sendiri simbol kebanggan, untuk dikenakan pada acara persib days.

Untung saja Persib tidak kalah di laga terakhir melawan Persijap, jika saja terjadi entah kesibukan seperti apa yang akan dilakukan para polisi di seantero Jawa Barat. Lebaran rakyat semesta kali ini sangat di luar nalar, sejak peluit panjang ditiup tanda akhir pertandingan, dan tanda awal kemenangan diraih, orang sudah siaga untuk merayakannya.

Sebagian segera sholat maghrib di awal waktu, saat pertandingan tepat di menit ke 81′ (waktu WIb), mereka sudah sangat percaya diri kemengangan tinggal menunggu waktu, biar tak menang, asal seri adalah obat dari segala obat.

Konvoi malam dimulai, menggema dimana-mana, tempat nobar (nonton bareng) dengan segala gaya mulai dari yang paling modern sampai yang paling buhun telah mulai ditinggalkan.

Dengan tatap mata optimisme peserta konvoi mulai menggeber motor kesayangannya, mobil truck sudah mulai berjejer, bender, syal, dan atribut lain sudah mulai dikenakan, pertanda perayaan pun dimulai untuk mengimbangi situasi di stadion GBLA yang penuh kegembiraan, apalagi saat sang kapten Mark Klok mengangkat piala kebanggaan.

Ahad ini konvoi kemenangan akan berlipat ganda, cuaca pagi beranjak siang mungkin sampai sore dan malam hari, Bandung akan menjadi lautan biru untuk kesekian kalinya. Bandung menjadi pemersatu solidaritas kemenangan bersama, Bandung menjadi identitas kota bola yang tak terlupakan.

Bandung bukan sekedar milik warga Bandung tapi sudah menjadi simbol juara, tanah kebangkitan, dan spirit katarsis rakyat yang haus hiburan, haus luapan kegembiraan, sekaligus menjadi katarsis semangat egaliterianisme alias unjuk kesamaan tanpa kelas.

Persib dengan kemenangannya menjadi obat pereda sakit ekonomi, sakit moral, dan sakit budaya. Terkadang ‘poho ka lemah wadi’ setiap orang sang pecinta bola larut dalam perayaan, sejenak melupakan luka-luka politik, derita ekonomi, dan patologi moral.

Dalam konteks ini, para pemimpin seharusnya peka dan empatik untuk support dalam perayaan, sebagai gambaran masih ada rasa ingin bersama, sama-sama dari asal yang sama, bahkan kembali bergiliran, sehingga pada akhirnya tidak lagi ada elit lupa kaun alit.

Tidak sepantasnya kuasa patron selalu menguliti nasib klien, semua kita saudara, dan sepakbola adalah oase penyembuh luka jarak itu semua, sepakbola mempersatukan jangan ada yang tertinggal, fokus semua sama, saling mendukung, untuk kemenangan klub kebanggaan.

Alhasil jika semua sudah ada di ‘room’ yang sama, pemimpin menyatu dengan rakyatnya, memberi contoh uswah dalam menonton bola yang bermarwah, memberi tauladan adab dimulai saat membeli karcis, duduk secara damai dengan masyarakat, berteriak di saat memberi wejangan bathin bahwa dalam bertanding ada kalanya kalah ada kakanya menang, maka rakyat akan mengikuti arah yang sama, kami bobotoh setia.

Bola mania hakiki, menang atau kalah itu biasa, tidak lagi ada caci maki brutal, tidak akan ada lagi teror menteror kepada pemain saat pemain beristirahat jelang pertandingan, tidak ada perilaku rasis, dan pada gilirannya menonton bola akan menjadi relaksasi terbaik saat dunia semakin akseleratif.

Wajah sepakbola adalah wajah asli kita. Jika sepakbola sudah tampil fair play, itulah karakter kita sebagai masyarakat dan bangsa-negara.

Bola memiliki ‘magnitude’ yang bisa menarik orang masuk stadion dengan jumlah puluhan ribu, dengan mudah mengundang orang turun ke jalan, solidaritas timbul walau tanpa komando berlebihan, orang mudah mengeluarkan budget demi kebanggaan, ini semua mengandung makna ada value’s’ yang diakui atau tidak, bahwa sepakbola adalah energi spiritual yang secara fitrah bersatu dengan kebutuhan manusia.

Sepakbola telah menyatukan lapis sosial, tidak membedakan gender, usia, kota-pelosok desa, kaya-miskin, berpendidikan-awam, kaum agamawan, tokoh masyarakat, cendekiawan, politisi, ekonom, budayawan, dan kelompok manapun menjadi satu, pecinta bola sejati.

Mereka adalah penikmat bola dengan caranya sendiri, masuk stadion, bahkan hanya sekedar melihat tim kebangaan berlatih adalah kemewahan.

Begitu pula pecinta yang hanya menikmati nonton televisi, YouTube, atau sekedar ulasan karena belum memiliki waktu.luang adalah kategorisasi pecinta bola sejati.

Alla kulli apa yang perlu kita catat saat Persib juara, atau klub dan negara juara atau alakadar masuk turnamen adalah energi spiritual manusia yang menyatu, dengan ragam keunikannya masing-masing. Adakah intitusi lain dengan energi dahsyat seperti sepakbola?

Tampilkan Lebih Banyak

mpijabar

Akun dari MPI Jawa Barat 2015-2023

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button