Ikatan Mahasiswa MuhammadiyahKabar Organisasi Otonom

STRATEGI IMM MENGANALISIS DISRUPSI INFORMASI DENGAN ETIKA CERDAS

oleh: Naaila Husna Rahmani

Dunia kita dipenuhi dengan banyaknya informasi. Puluhan notifikasi menanti di layar ponsel setiap pagi sebelum mata benar-benar terbuka. Berita dari seluruh dunia, pendapat orang asing, dan tuduhan mengejutkan tiba tanpa diundang. Menjadi seorang mahasiswa, terutama anggota IMM, bukan hanya harus pintar, tetapi juga bijaksana di tengah arus yang cepat ini. Technoshophia, yang berarti kebijaksanaan teknologi, adalah strategi yang dapat diandalkan. Tidak hanya mampu menggunakan alat teknologi, tetapi juga mampu menganalisis data dengan bijak. Apa strategi yang dapat dilakukan IMM untuk membekali kadernya dengan kemampuan ini?

Pertama-tama, perlu diakui bahwa disinformasi dan hoaks telah menjadi “penyakit masyarakat” di era digital. Jurnal Ach. Syamsul Muarifillah et al. menyatakan bahwa berita palsu menyebar dengan cepat melalui platform internet dan memiliki kemampuan untuk mempengaruhi opini publik hingga mengganggu stabilitas sosial. Salah satu contoh nyata adalah hoaks “Kapolda Jabar Meninggal” yang menjadi viral di TikTok yang setelah ditelusuri, ternyata itu adalah berita bohong. Itu menyebabkan kebingungan dan keresahan yang tidak perlu. Mereka yang tidak terlalu melek teknologi cenderung langsung percaya tanpa memverifikasi terlebih dahulu.

Dengan demikian, pendekatan utama yang harus diterapkan IMM adalah meningkatkan literasi informasi. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Muarifillah dkk., ada tiga langkah yang dapat kita mulai:

  • Pertama, meningkatkan kredibilitas sumber data
  • Kedua, mengajarkan pemikiran kritis dengan mempertanyakan dan mengecek ulang setiap informasi
  • Ketiga, menggunakan fakta dengan membandingkan berbagai sumber data.

IMM dapat menggabungkan tiga langkah ini ke dalam setiap program kaderisasi, mulai dari pendidikan kader dasar hingga pelatihan tematik. Misalnya, anggota staf IMM harus dilatih untuk membuat “protokol verifikasi” sebelum menyebarkan berita, yang mengidentifikasi siapa penulisnya, dari institusi mana, apakah ada sumber lain yang mengonfirmasi, dan apakah judulnya sesuai dengan isi.

Langkah-langkah ini bukan sekedar teori. Polisi kota Parepare telah menerapkan strategi komunikasi yang terstruktur untuk memerangi hoax. Menurut penelitian Artianasari dan Qadaruddin, strategi yang dapat dilakukan antara lain mencari informasi di media sosial, melakukan investigasi di lapangan, memverifikasi informasi, dan kemudian memberikan klarifikasi atau konfirmasi kepada publik. Pola “validasi sebelum viral” ini dapat diaplikasikan oleh IMM. Bayangkan jika setiap anggota staf IMM telah terbiasa melakukan analisis informasi dari setidaknya tiga sumber berbeda sebelum mengklik tombol “bagikan”, epidemi hoax di lingkungan sekitar pasti dapat dicegah. Polres Parepare juga menggunakan aplikasi Hoax Buster Tools (HBT), yang dibuat oleh komunitas anti-fitnah, untuk mengidentifikasi berita palsu. IMM dapat memperkenalkan alat-alat seperti ini kepada masyarakat kampus dan kader.

Penanganan hoax oleh Polres Parepare juga bekerja sama dengan komunitas anti-hoaks dan netizen. Dengan demikian, IMM tidak dapat bekerja sendiri. Membangun jaringan di antara lembaga kemahasiswaan lainnya adalah langkah berikutnya. Diskominfo bekerja sama dengan akun media sosial populer untuk mempercepat klarifikasi hoax, seperti yang terjadi di Samarinda. IMM dapat berfungsi sebagai penghubung antara komunitas mahasiswa dan otoritas resmi seperti kampus, polisi, atau pejabat daerah. Dengan demikian, informasi yang diberikan kepada mahasiswa adalah informasi yang telah divalidasi.

Mengadakan diskusi dan sosialisasi adalah tindakan kolaboratif lain yang sudah terbukti efektif. Humas Polres Parepare secara teratur menyelenggarakan “sosialisasi anti-hoax” untuk masyarakat, termasuk mahasiswa. Masyarakat tidak hanya diberi peringatan, tetapi juga diberi pengetahuan praktis tentang cara membedakan judul provokatif, memastikan kebenaran foto, dan menggunakan aplikasi untuk menemukan hoax. IMM memiliki kemampuan dalam menjadi penggerak untuk diskusi yang serupa di setiap cabang sekaligus menjadikannya sebagai platform untuk dakwah digital yang mencerahkan.

Menurut Kerstin Hoge, McWhorter dengan tegas menolak gagasan bahwa bahasa menentukan cara berpikir seseorang. Menurut McWhorter, perbedaan bahasa tidak mengubah cara orang berpikir secara signifikan. Orang Rusia yang menggunakan kata “biru muda” dan “biru tua” mungkin sedikit lebih cepat untuk membedakan warna tersebut, tetapi itu tidak berarti mereka melihat dunia secara berbeda. Pada dasarnya, orang-orang dengan bahasa dan budaya yang berbeda memiliki pemikiran yang sama.

Apa relevansinya dengan strategi IMM menganalisis informasi? Sangat besar. Banyak hoaks dan narasi provokatif justru dibangun di atas klaim bahwa “kelompok kita berbeda dengan mereka”, bahwa ada jurang pemisah dalam cara pandang, sehingga konflik tidak terhindarkan. McWhorter mengingatkan kita pada fakta bahwa perbedaan itu seringkali disalahartikan. Seorang anggota IMM harus waspada terhadap cerita yang sengaja memecah-belah perbedaan SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan). Ketika kita berbicara tentang etika cerdas, kita harus menyadari bahwa secara fundamental, setiap orang, apapun bahasanya, berpikir dengan cara yang sama: mencari kebenaran dan menghindari kerugian. Hoaks yang mengadu domba biasanya berhasil karena memanfaatkan perspektif “kita versus mereka”. Kita dapat menghilangkan perspektif itu dengan pemahaman McWhorter.

   Maka dari itu, tidak cukup untuk melakukan analisis informasi yang etis hanya dengan memeriksa fakta-fakta. Lebih penting lagi, ia harus disertai dengan sikap hati yang menghargai kesamaan setiap orang. Seorang anggota IMM harus mempertanyakan kebenaran informasi setiap kali mereka menerima informasi yang memicu kemarahan kelompok lain. Atau hanya cerita yang dibesar-besarkan untuk menimbulkan konflik? “Kebijaksanaan” dalam Technoshophia adalah kemampuan untuk tetap berpikir jernih dan tidak mudah terprovokasi.

Lalu, bagaimana IMM berfungsi sebagai organisasi khususnya bagi para mahasiswa? Menjadikan budaya tabayyun (klarifikasi) sebagai ciri organisasi adalah strategi yang paling penting. mulai dari akun media sosial resmi IMM di kampus hingga grup WhatsApp kecil seperti komisariat. Etika informasi akan ditanamkan dengan sering mengedukasi anggota, tidak mudah menyebarkan informasi tanpa verifikasi, dan berani meluruskan hoaks. IMM juga dapat membentuk “dewan verifikasi” internal yang bertanggung jawab untuk memastikan bahwa masalah mahasiswa sebenarnya sebelum organisasi mengambil sikap.

Pada akhirnya, kemampuan untuk menganalisis data dengan etika adalah hasil dari latihan dan pembiasaan, bukan sebab bakat yang diberikan secara naluriah. Ahli komunikasi seperti Hafied Cangara (dalam rujukan Artianasari) menekankan bahwa komunikasi yang efektif hanya dapat terjadi jika komunikator dan komunikan berbagi sikap, pengertian, dan bahasa. Dalam era teknologi modern, persamaan pengertian harus dibangun secara sadar melalui literasi informasi yang terus-menerus.

  Kesimpulannya, strategi IMM untuk menganalisis informasi dengan etika cerdas memerlukan banyak pendekatan. Dibutuhkan kesadaran etis yang berkelanjutan, kolaborasi dengan berbagai pihak (seperti Diskominfo, kepolisian, komunitas anti-hoax), literasi informasi yang kuat (memeriksa sumber, memverifikasi fakta), dan kolaborasi. Pada dasarnya, semua orang memiliki cara berpikir yang sama, menurut McWhorter. Bukan karena perbedaan bahasa atau budaya, hoax dan disinformasi muncul karena memanfaatkan emosi dan bias. IMM harus menjadi “ruang gema” fakta, bukan hoaks, dan bertindak sebagai penyejuk di tengah panasnya informasi. Masa depan negara ini dipertaruhkan oleh mahasiswa Muhammadiyah, dan masa depan hanya dapat dibangun dengan kebenaran daripada kebohongan.

Tampilkan Lebih Banyak

mpijabar

Akun dari MPI Jawa Barat 2015-2023

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button