
Oleh : Fakhri Muhammad A.R
Society 5.0 merupakan evolusi dan revolusi society 4.0, dimana teknologi AI, IoT, dan Big Data di integrasikan untuk menyelesaikan masalah sosial secara Human sentris. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) memiliki Tri Kompetensi Dasar : Intelektualitas, Religiusitas, Dan Humanitas sebagai pondasi awal penguatan para kader IMM untuk menghadapi era ini.
Pengertian Society 5.0 dan Tantangannya
Society 5.0 adalah masyarakat super-smart dimana data fisik dan digital saling bersinergi untuk meningkatkan kualitas hidup. Berbeda hal-nya dengan society 4.0 yang hanya berfokus kepada otomatisasi industri, society 5.0 menekankan inklusivitas dalam mengatasi kesenjangan melalui inovasi teknologi berbasis nilai kemanusiaan. Tantangan utama dari hal tersebut meliputi etika AI, digital divide, dan degradasi moral akibat hyperconnected, dimana di era ini generasi muda di tuntut untuk menguasai kompetensi holistik.
Di Indonesia pun, transformasi ini mendapatkan percepatan, sesuai dengan roadmap society 5.0 yang di inisiasi oleh kemendikbudristek, yang memiliki target pendidikan adaptif berbasis data. IMM sendiri dengan kepemilikan kader nya yang tersebar di seluruh dunia memiliki potensi untuk menjadi agent of change melalui TriKoda yang di milikinya.
Tri Kompetensi Dasar IMM sebagai pondasi awal
TriKoda IMM memiliki tiga poin terdiri dari : Religiusitas (Iman danTaqwa) Intelektualitas (Pengetahuan dan Riset) Humanitas (Pengabdian dan Inovasi). Religiusitas menanamkan nilai-nilai rahmatan lil alamin, Intelektualitas sebagai pendorong pelaksanaan riset berbasis syariah dan digitalisasi, dan Humanitas di jadikan sebagai control engine agar teknologi tidak dehumanisasi. Selain TriKoda IMM sendiri memiliki AD/ART sebagai pengatur berjalannya organisasi IMM, dimana pada AD/ART menegaskan tujuan IMM untuk mencetak akademisi islam berakhlak mulia, yang memiliki keselarasan dengan tujuan Muhammadiyah dalam mendukung kemajuan umat.
Penguatan TriKoda ini menjadi suatu hal yang sangat penting dan krusial untuk generasi muda future-ready, yang harus adaptif terhadap disrupsi dan metaverse. Tanpa pondasi ini para mahasiswa bisa terjebak dalam budaya konsumtif digital yang berlebih.
Manifestasi Religiusitas dalam society 5.0
Religiusitas TriKoda IMM dalam society 5.0 di implementasikan melalui dakwah digital dan literasi agama berbasis digital. Contohnya, melalui program “IMM Digital Preaching” menggunakan AI chatbot untuk fatwa online, yang mengkolaborasikan antara Al-Qur’an dengan analisi digital real-time. Hal ini bagian dari usaha untuk mencegah mis-informasi yang terjadi di media sosial. Selain itu, hal ini sejalur dengan society 5.0 yang mengintegrasikan antara media digital dan data fisik di integrasikan sehingga tercipta perwujudan human-centered.
IMM pun mengembangkan aplikasi “Shalawat 5.0” berbasis IoT untuk memonitoring ibadah komunal di kampus, untuk memperkuat ukhuwah digital. Dengan pendekatan ini bisa memastikan peng-implementasian nilai religiusitas tidak ketinggalan zaman, melainkan menjadi filter yang etis terhadap teknologi.
Penguatan Intelektualitas melalui Inovasi Digital
Dalam pengimplementasian intelektualitas Tri Koda IMM di era digital saat ini, pengayaan riset melalui pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dapat menjadi dorongan utama untuk menunjukkan kemajuan dan adaptasi, sehingga IMM tidak tertinggal dari perkembangan zaman yang sangat pesat, serta mampu memanfaatkan momentum tersebut secara aktif, bukan sekadar menyaksikan dan menikmatinya.
Penguatan intelektualitas ini dapat didorong melalui riset AI, karena kegiatan tersebut melatih kompetensi berpikir kritis dan pemecahan masalah yang esensial di tengah era digitalisasi yang mendominasi kehidupan saat ini. Selain itu, riset AI juga dapat memperkaya pemahaman etika teknologi, memperluas jejaring kolaborasi antarpeneliti, serta menghasilkan inovasi konkret yang relevan dengan visi Tri Koda IMM, seperti pengembangan solusi berbasis data untuk isu sosial dan keorganisasian.
Sinergi TriKoda Untuk Generasi Future-Ready
Integrasi ketiga kompetensi tersebut religiusitas, intelektualitas, dan humanitas dapat menciptakan ekosistem holistik, dimana 3 poin tersebut saling memenuhi satu sama lain. Religiusitas berfungsi sebagai pemberi arah moral dan spiritual, intelektualitas sebagai fasilitator serta penyedia alat pengetahuan, sedangkan humanitas menjadi ruang implementasi yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Jika IMM menyusun roadmap strategis untuk periode 2025-2030 dengan target membentuk satu juta kader future ready melalui bootcamp hybrid, serta mengadopsi framework World Economic Forum tentang Skills 5.0, maka organisasi ini mampu membawa perubahan besar. Pendekatan tersebut juga memungkinkan IMM untuk berhasil memanfaatkan perkembangan zaman yang tercermin dalam konsep society 5.0.
Tantangan dan Strategi Penguatan
Tantangan utama yang dihadapi oleh IMM dalam menghadapi Revolusi society 5.0 terletak pada isu etika kecerdasan buatan (AI), ketimpangan akses teknologi yang disebut digital divide, serta penurunan nilai moral yang disebabkan oleh hiperkonektivitas. Hal-hal ini berpotensi memperparah budaya konsumsi berlebihan di dunia digital dan menyebarkan informasi yang tidak akurat melalui media sosial. Di Indonesia, proses transformasi ini semakin cepat berkat roadmap pendidikan adaptif berbasis data yang diinisiasi oleh Kemendikbudristek. Namun, jika tidak dilakukan penguatan terhadap TriKoda yaitu religiusitas, intelektualitas, dan humanitas, maka para kader IMM berpotensi tertinggal dari berbagai disrupsi teknologi seperti metaverse dan otomatisasi industri yang menjadi bagian dari society 4.0. Perkembangan ini menuntut pendekatan yang lebih human sentris.
Strategi untuk memperkuat TriKoda mencakup pelaksanaan dakwah digital melalui program seperti “IMM Digital Preaching” yang menggunakan AI chatbot untuk memberikan fatwa online berdasarkan Al-Qur’an dan menganalisis secara langsung dalam waktu nyata, serta aplikasi “Shalawat 5.0” yang berbasis IoT untuk mengawasi ibadah secara bersama-sama. Penguatan intelektualitas dilakukan melalui penelitian AI yang membantu melatih berpikir kritis, pemahaman tentang etika teknologi, serta inovasi yang dilakukan secara bersama-sama. Sinergi yang menyeluruh dari ketiga kompetensi ini diwujudkan dalam roadmap 2025-2030, dengan tujuan menciptakan satu juta kader yang siap menghadapi masa depan. Prosesnya dilakukan melalui bootcamp hybrid yang mengadopsi Skills 5.0 yang dianjurkan oleh World Economic Forum, sesuai dengan AD/ART IMM yang menargetkan pengembangan akademisi Islam yang memiliki akhlak yang mulia.
IMM dapat menjadi penggerak revolusi society 5.0 dengan memperkuat tiga aspek utama yang termaktub pada Tri Kompetensi Dasar, yaitu religiusitas, intelektualitas, dan humanitas. Penguatan ini menciptakan generasi future ready yang mampu menggabungkan Iman, Ilmu, dan Amal. Sesuai dengan inti pembahasan Tri Kompetensi Dasar IMM yang menekankan keseimbangan antara aspek spiritual, intelektual, dan pengabdian.
Dengan menjunjung tinggi nilai-nilai tersebut dengan konsisten, IMM tidak hanya mampu bertahan dalam menghadapi perubahan dan perkembangan di dunia digital, tetapi juga berhasil memimpin perubahan yang berbasis keislaman, inklusif, dan penuh inovasi. Hal ini sesuai dengan visi Muhammadiyah dalam menciptakan kader yang membawa kebaikan bagi seluruh umat manusia, siap menghadapi tantangan masyarakat yang sangat terhubung dan tergantung pada teknologi seperti AI dan IoT, dengan arah dan pedoman yang berlandaskan etika agama.





