
Bandung – Menjadi dosen atau pengajar di sebuah perguruan tinggi sejatinya tidak cukup hanya mengajar para mahasiswa di ruang kelas.
Di balik tugas tersebut, ada tanggung jawab yang lebih besar untuk membangun tradisi riset, menghasilkan publikasi ilmiah, dan mengembangkan karier akademik yang berdampak bagi diri sendiri ataupun institusi.
Pesan itu disampaikan Wakil Rektor I Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Ayi Yunus Rusyana saat peluncuran Sistem Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UM Bandung pada Rabu lalu.
Menurut Ayi, salah satu tantangan yang masih dihadapi perguruan tinggi adalah pola pikir sebagian dosen yang masih memosisikan diri layaknya guru.
Padahal, profesi dosen menuntut pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi secara utuh, mulai dari pendidikan, penelitian, hingga pengabdian kepada masyarakat.
“Masih ada dosen yang mindset-nya seperti guru. Cara pandang seperti ini harus mulai diubah. Dosen harus memikirkan jabatan fungsionalnya, membangun karier akademik, sekaligus berkontribusi terhadap kemajuan lembaga,” ujarnya.
Ayi menegaskan bahwa penelitian tidak boleh sekadar menjadi pelengkap administrasi atau pemenuhan beban kerja.
Riset harus dibangun melalui sistem yang baik agar setiap tahapan, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, hingga pelaporan, berjalan terarah dan menghasilkan luaran yang berkualitas.
“Jangan asal meneliti. Jangan hanya mengejar laporan selesai. Yang paling penting adalah outcome-nya. Dipublikasikan di jurnal apa, terindeks SINTA berapa, itu yang harus menjadi orientasi,” katanya.
Oleh karena itu, peluncuran Sistem LPPM UM Bandung menjadi langkah strategis untuk memperkuat tata kelola penelitian yang lebih tertata, transparan, dan akuntabel.
Menurutnya, sistem tersebut akan memudahkan dosen mengelola seluruh proses penelitian sekaligus mendorong peningkatan kualitas karier akademik.
Ia juga mendorong dosen untuk lebih aktif mengurus jabatan fungsional. Menurutnya, jumlah lektor kepala di UM Bandung masih perlu ditingkatkan.
Semakin banyak dosen yang naik jabatan fungsional, menjadi reviewer, serta membangun jejaring dan kolaborasi, semakin kuat pula reputasi akademik kampus.
Ayi menilai hibah penelitian internal sebaiknya menjadi batu loncatan bagi dosen, terutama dosen baru.
Setelah itu, para dosen didorong berkompetisi memperoleh hibah penelitian nasional, seperti Program BIMA dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
“Saya berharap tahun depan mayoritas dosen UM Bandung memperoleh hibah BIMA. Jangan terus bergantung pada hibah internal. Hibah internal cukup menjadi stimulus untuk melangkah ke tingkat nasional,” ujarnya.
Selain menghasilkan publikasi ilmiah, Ayi mengajak dosen agar hasil penelitian tidak berhenti di jurnal.
Riset juga perlu dikomunikasikan kepada masyarakat melalui laman kampus maupun media sosial agar memberi dampak yang lebih luas.
Ia mencontohkan riset Universitas Ahmad Dahlan (UAD) tentang Generasi Z dan Muhammadiyah yang sempat menjadi perbincangan nasional setelah dipublikasikan secara luas.
“Penelitian jangan hanya selesai di jurnal. Bagaimana hasil riset kita bisa menjadi isu publik, dibaca masyarakat, diperbincangkan, bahkan menjadi rujukan nasional. Itulah yang harus kita bangun,” imbuhnya.
“Dengan sistem LPPM yang baru, saya berharap budaya riset di UM Bandung semakin kuat, karier dosen semakin berkembang, dan reputasi kampus terus meningkat melalui karya-karya yang benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat,” pungkasnya.***







