Kabar PersyarikatanKolom

Menunggu Peran Positif Muhammadiyah

Oleh: Dadang Kahmad

“Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain.”

Konflik yang sedang terjadi di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat & Israel (Amsis) menyerang Negara Islam Iran memperlihatkan wajah dunia yang semakin jauh dari nilai keadilan dan kemanusiaan.

Ribuan nyawa melayang, jutaan kehilangan tempat tinggal, dan dunia seperti terbelah dalam sikap politik yang saling berseberangan, sebagian menentang agresi tersebut sementara sebagian lain mendukungnya.

Konflik tersebut bukan sekadar perang biasa. Ia adalah simbol ketidakadilan global yang telah berlangsung puluhan tahun.

Ketika hukum internasional kerap diabaikan dan kekuatan militer menjadi bahasa utama, maka yang menjadi korban adalah rakyat sipil yang tidak berdosa. 

Maka dalam konteks ini, diam tidak mengambil sikap bukanlah pilihan moral terpuji dan bukan pada tempatnya diam itu emas.

Muhammadiyah, sebagai gerakan Islam Berkemajuan, tidak cukup hanya menyatakan sikap prihatin tetapi diperlukan langkah nyata dan strategis. Yaitu penguatan aksi kemanusiaan harus menjadi prioritas.

Muhammadiyah dapat tampil sebagai kekuatan sipil global yang menghadirkan bantuan nyata bagi korban perang.

Ini bukan sekadar bantuan materi, tetapi bantuan moral yang mengandung pesan bahwa umat Islam hadir membela keadilan.

Oleh karena itu, Muhammadiyah harus punya keberanian bersuara lebih lantang lagi dalam diplomasi moral. Dunia hari ini tidak hanya membutuhkan kekuatan politik, tetapi juga suara etika.

Muhammadiyah memiliki modal besar sebagai organisasi Islam moderat yang dihormati secara internasional.

Peran ini bisa diwujudkan melalui advokasi global, kerja sama lintas agama, dan mendorong penyelesaian konflik secara damai dan berkeadilan.

Di tengah derasnya arus informasi dan propaganda dari berbagai pihak yang memperkeruh jagat informasi, maka Muhammadiyah harus menjadi pelopor literasi global.

Generasi muda perlu dibekali pemahaman yang jernih, tidak emosional, serta mampu melihat persoalan secara objektif dan adil. 

Namun demikian, tantangan besar juga mengemuka sementara ini adanya polarisasi sikap masyarakat, penyebaran hoaks, serta emosi keagamaan yang tidak terkendali sehingga dapat melemahkan peran strategis umat.

Di sinilah pentingnya kepemimpinan moral Muhammadiyah untuk menjaga keseimbangan antara empati dan rasionalitas.

Sejarah akan mencatat: dalam setiap krisis kemanusiaan, selalu ada pihak yang memilih diam, dan ada pula yang memilih bertindak. 

Muhammadiyah seharusnya berada pada barisan kedua—menjadi pelopor perdamaian, penjaga nurani, dan pembela kemanusiaan.

Jika perlu Muhammadiyah harus tampil melakukan misi diplomasi ke berbagai organisasi Islam, menggalang suara untuk menyuarakan kebenaran.

Atau Muhammadiyah sudah termasuk ke dalam golongan umat sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah SAW:

“…kalian pada saat itu banyak, akan tetapi kalian itu buih seperti buih banjir, dan Allah akan menghilangkan dari diri musuh-musuh kalian rasa takut terhadap kalian dan menimpakan ke dalam hati-hati kalian wahn (kelemahan).”

Lalu, bertanya lagi, “Wahai Rasulullah apa wahn (kelemahan) itu?”

Kata beliau, “Cinta dunia dan takut mati.” (HR Abu Daud)

Wallahu a’lam.

____

Sumber: Suara Muhammadiyah, Edisi 09/111, 1–15 Mei 2026, hlm. 19.

Tampilkan Lebih Banyak

mpijabar

Akun dari MPI Jawa Barat 2015-2023

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button