Kolom

Farhan Ar Ketua PDM Kota Depok Putra Ar Fachruddin Ketum PP Muhammadiyah yang Ramah dan Bersahaja

Oleh: Mursin MK

Bermula Drs. Farhan AR Fachruddin tinggal di Komplek perumahan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) yang dibangun khusus untuk karyawannya di Depok II Tengah.

Perumahan BKPM ini berada di lingkungan Perumnas Depok II, namun lingkungannya terpisah. Pengembangnya bukan Perumnas, melainkan pengusaha yang bekerja sama dengan BKPM dalam penyediaan rumah. Karyawan yang mengambil rumah itu membayar dengan cara mencicil setiap bulan dan bunganya rendah.

Perumahan BKPM dibangun tahun 1982 pada zaman Ismail Saleh SH menjadi pimpinannya. Farhan salah satu karyawan di kantor BKPM, sekantor dengan Drs. Sutrisno Muhdam, kakak iparnya. Belum memiliki tempat tinggal saat perumahan BKPM dibangun, ia pun mengambil satu unit rumah sesuai dengan jatahnya. Sejak itu ia tinggal dan menetap di daerah Depok bersama istri dan anak-anaknya.

Sebagai anak kelima AR Fachruddin, Ketua Umum PP Muhammadiyah (1968-1990), saat menetap di Depok, ia tidak berdiam diri. Ia bersama beberapa karyawan BKPM, yang sama sama tinggal satu komplek dan berasal dari Muhammadiyah lalu berkumpul dan berdiskusi.

Di antara mereka, Drs. Abdul Rohis, Untung, dan lainnya. Mereka bersepakat untuk merintis Muhammadiyah Ranting Mekarjaya, Depok II Tengah, hingga berdiri. Warga Muhammadiyah yang sudah tinggal lebih dahulu di Perumnas II Depok Tengah juga ikut bergabung dengan semangat tinggi.

Ibu-ibu Aisiyah juga, termasuk istri dari Farhan sendiri, bersama istri temannya di komplek BKPM, merintis berdirinya Ranting Aisiyah Mekarjaya. Ibu-ibu yang sepaham dan sudah tinggal lebih dahulu di Perumnas Depok II Tengah ikut bergabung bersama.

Malah kaum ibu Aisiyah ini lebih semangat dengan merintis berdirinya TK Aisiyah Bustanul Athfal (ABA) 9 Mekarjaya (1999). TK ini terbilang maju dan berkembang hingga mampu memperluas lahan dan meningkatkan bangunannya dua lantai.

Kehadiran Farhan AR di Depok disambut hangat tokoh-tokoh Muhammadiyah asli Depok, termasuk Mualim Usman, perintis Muhammadiyah Depok sejak sebelum Indonesia merdeka. Dengan berdirinya ranting-ranting baru di Perumnas Depok I dan II, Barat, Tengah, dan Timur, mendorong Muhammadiyah Depok mengembangkan organisasinya.

Maka saat berdiri Kota Administratif (Kotip) Depok, Muhammadiyah berusaha meningkatkan statusnya dari Cabang menjadi Daerah Kotif yang lebih luas wilayah kerjanya. Untuk memenuhi syarat berdirinya Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kotip Depok, jumlah cabang yang harus didirikan, minimal tiga cabang.

Lalu dibentuk pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) di setiap kecamatan Kotif Depok yang ada. Sementara itu, cabang yang sudah ada saat itu baru PCM Depok saja. Lalu didirikanlah PCM Depok Barat, PCM Pancoran Mas, PCM Beji, dan PCM Sukmajaya. Akhirnya, jumlah PCM menjadi lima. Ini berarti memenuhi syarat terbentuknya PDM Kotip Depok, sesuai ketentuan Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART).

Menjelang Muktamar Muhammadiyah di Aceh tahun 1990, PDM Kotip Depok sudah terbentuk organisasi dan kepengurusannya. Pada tanggal 8 Desember 1990 mendapatkan SK pengesahan organisasi dari PP Muhammadiyah di Yogyakarta.

Mualim Usman duduk sebagai Ketua PDM Kota Depok dan Farhan sebagai Wakil Ketua. Dengan aktif di PDM Kotip Depok, namanya semakin dikenal luas di kalangan warga dan tokoh Muhammadiyah Depok dan sekitarnya. Oleh karena itu, tidak mengherankan, pada saat diadakan pertama kali Musyawarah Daerah (Musyda) Muhammadiyah Kotip Depok di Cisalak, Cimanggis (1991), ia yang terpilih sebagai ketua.

Pada masa memimpin PDM periode 1990-1995, Farhan berhasil merintis berdirinya Masjid At Taubah di daerah Mekarjaya. Ini masjid Muhammadiyah satu satunya di daerah Kecamatan Sukmajaya. Masjid berdiri di atas tanah yang dibeli Muhammadiyah Mekarjaya. Lokasinya berdekatan dengan TK ABA 9 Mekarjaya. Masjid ini menjadi pusat ibadah warga Muhammadiyah, tempat musyawarah, pengajian dan berbagai kegiatan pimpinan bersama anggota.

Dalam Musyda yang dilaksanakan di SMA Muhammadiyah I Depok (1995) di Jemblongan,Farhan terpilih kembali menjadi Ketua PDM Kotip Depok, periode 1995-2000, untuk yang kedua kalinya. Pada periode kepemimpinannya ini, status Kotip Depok ditingkatkan menjadi Kota Madya Depok, sehingga bertambah luas wilayah administrasinya.

Pada saat masih berstatus Kotip Depok, jumlah kecamatannya ada empat saja, yakni Kecamatan Cimanggis, Beji, Pancoran Mas, dan Sukmajaya. Jumlah PCM pun sama. Meliputi PCM Beji, PCM Pancoran Mas, PCM Depok Barat, dan PCM Sukmajaya. Setelah berdiri Kota Depok (1999), jumlah PCM bertambah dua, yakni PCM Sawangan dan PCM Limo.

Di masa Farhan memimpin PDM Depok periode kedua ini, berhasil mendirikan Madrasah Aliyah Muhammadiyah (MAM) Depok di Kukusan (1996). Sekolahnya masih satu atap dengan Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah (MTSM) Kukusan.

Hanya kegiatan belajarnya, sekitar tiga tahun saja bertahan. Selain itu, ia pun berhasil menggerakkan berdirinya SD Muhammadiyah Sukmajaya (1999) yang bekerja sama dengan PCM setempat, dan hingga kini tetap berjalan. Beliau juga bersama Pimpinan Ranting Aisiyah (PRA) Mekarjaya mendirikan panti asuhan yatim di rumah dekat TK ABA yang dibeli dan dirinya rutin berkumpul dengan anak yatim di panti asuhan.

Selama memimpin PDM Kota Depok, Farhan termasuk aktif. Berkunjung ke Cabang dan Ranting ranting Muhammadiyah dalam suka dan duka. Sukanya bila kedatangannya disambut meriah pimpinan dan jamaah Muhammadiyah yang dikunjunginya. Baik saat ia menghadiri acara dan musyawarah Cabang dan Ranting Muhammadiyah, maupun kegiatan lainnya. Termasuk menghadiri undangan pimpinan dan anggota yang mengadakan hajatan di gedung atau di rumahnya.

Dukanya jika datang dalam keadaan hujan lebat dan jalan rusak saat berkunjung ke PCM-PRM yang lokasinya jauh dari rumahnya.

Dalam Musyda Muhammadiyah Depok tahun 2000 di MTs Muhammadiyah Kukusan Beji, Wazir Nuri yang terpilih sebagai ketua periode 2000-2005. Adapun Farhan duduk sebagai salah satu wakil ketua. Dalam Pilkada Depok tahun 2005, ia menjadi calon Wakil Wali Kota Depok, berpasangan dengan Drs. Harun, mantan Camat Beji, yang dekat dengan Muhammadiyah dan warganya.

Hanya takdir Allah jua. Keduanya tidak terpilih dalam pilkada. Namun, Farhan terpilih kembali dalam Musyda PDM Kota Depok periode 2005-2010 dan 2010-2015 sebagai ketua. Saat menjadi Ketua PDM Kota Depok, Farhan tidak segan segan berdakwah dalam masyarakat dan di lingkungan warga Muhammadiyah. Ia biasa mengisi pengajian dan pembinaan pimpinan Muhammadiyah dan Aisiyah.

Termasuk juga ia biasa mengisi dakwah di Masjid-masjid Muhammadiyah, termasuk khutbah Jumat. Karena itu aktivitasnya pun bertambah. Tentu ia berbeda dengan mubalig umum dalam berdakwah. Ia berusaha memenuhi undangan dan permintaan dengan ikhlas dan semata mata beribadah.

Rumah yang ditempati Farhan bersama keluarga dari awal diisi hingga wafat, tak banyak berubah. Bangunan awal masih terlihat, hanya ada beberapa bagian yang ditambah. Atap garasi mobil itu tambahan, agar air hujan dapat dicegah, sehingga mobil Suzuki Katana miliknya tidak sampai basah. Mobil Suzuki tua ini yang biasa digunakan dalam melaksanakan tugas kepemimpinannya di Muhammadiyah. Ia sendiri yang menyetir tanpa sopir ke berbagai tempat undangan masyarakat, Muhammadiyah, dan Aisiyah.

Setelah beliau wafat, rumahnya dijual dan dihibahkan ke Muhammadiyah Cabang Sukmajaya untuk dijadikan gedung Muhammadiyah-Aisiyah agar masyarakat lebih merasakan. Hidup Farhan sebagai ketua PDM Kota Depok, benar-benar mengikuti jejak AR Fachruddin, bapaknya. Hidupnya sederhana dan bersahaja. Hanya bedanya, bapaknya tidak punya rumah dan mobil, kecuali motor bebek tua.

Farhan memiliki rumah sendiri dengan mencicil hingga lunas dan juga punya mobil Suzuki Katana lama. Hal berbeda lainnya, saat ia mengisi ceramah dan pidato, tidak banyak kelakar dan humor membuat orang tertawa mendengarnya. Walau suaranya hampir sama. Berbeda dengan bapaknya, AR Fachruddin di Yogyakarta. Ia dikenal humoris walau bicara serius dalam pidato dan ceramah ceramahnya. Bahkan tausiyahnya bisa membuat orang banyak pun tertawa ceria.

Meskipun demikian, sikap dan adab Farhan dan bapaknya hampir sama dalam ber-Muhammadiyah. Pertama, saat bicara berwajah cerah. Kedua, bersikap santun dengan siapa pun dan ramah. Ketiga, menerima tamu dengan suka cita dan menjaga akhlaqul karimah. Keempat, memelihara keikhlasan dalam beramal ibadah. Kelima, benar-benar rela berkorban dalam menjalankan tugas, tanggung jawab, dan perjuangan sebagai pemimpin yang mengemban amanah ummat dan Allah.*** 

Tampilkan Lebih Banyak

mpijabar

Akun dari MPI Jawa Barat 2015-2023

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button