Kabar PersyarikatanKolom

Asal Mula Kamis Malam Jumat

Oleh: Nashrul Mu’minin*

Ketika berbicara tentang Kamis malam Jumat, banyak orang langsung teringat pada shalawat, Surat Al-Kahfi, doa, yasinan, tahlil, atau berbagai tradisi keagamaan yang hidup di tengah masyarakat muslim.

Namun, tidak sedikit yang bertanya, dari mana sebenarnya asal-usul kemuliaan Kamis malam Jumat itu? Apakah ia lahir dari budaya masyarakat tertentu, atau memang memiliki akar yang kuat dalam sejarah Islam?

Untuk memahami hal ini, kita perlu menelusuri perjalanan sejarah sejak masa Rasulullah, para sahabat, generasi tabi’in, hingga para ulama besar yang membentuk tradisi keilmuan Islam selama berabad-abad.

Dalam Islam, konsep kemuliaan waktu bukanlah sesuatu yang asing. Allah Swt. menciptakan seluruh waktu, tetapi sebagian waktu diberikan keutamaan khusus.

Sebagaimana bulan Ramadhan lebih utama daripada bulan-bulan lainnya, malam Lailatul Qadar lebih mulia daripada seribu bulan, demikian pula hari Jumat memperoleh kedudukan yang lebih tinggi dibanding hari-hari lain dalam sepekan.

Karena malam dalam kalender Islam dimulai sejak terbenam matahari, maka malam Jumat sesungguhnya dimulai sejak Magrib pada hari Kamis. Inilah sebabnya istilah “Kamis malam Jumat” muncul dalam tradisi umat Islam.

Asal-usul kemuliaan malam Jumat berakar pada kemuliaan hari Jumat itu sendiri. Rasulullah bersabda: “Sebaik-baik hari yang disinari matahari adalah hari Jumat.” (HR. Muslim)

Hadis ini menjadi fondasi utama mengapa para ulama kemudian memberikan perhatian besar terhadap malam yang mengawali datangnya hari Jumat.

Jika siangnya adalah penghulu segala hari, maka malam yang menjadi pembukanya tentu memiliki nilai yang istimewa pula.

Menurut para ulama sejarah Islam, penghormatan terhadap hari Jumat sudah dimulai bahkan sebelum Nabi Muhammad diangkat menjadi Rasul.

Sebagian riwayat menyebutkan bahwa kaum Arab sebelum Islam menyebut hari Jumat dengan nama Yaum al-‘Arubah.

Setelah Islam datang, nama itu berubah menjadi Yaum al-Jumu’ah, yang berarti hari berkumpul. Nama ini muncul karena kaum Muslimin berkumpul untuk melaksanakan shalat Jumat dan mendengarkan khutbah.

Tokoh yang sering disebut dalam sejarah terkait penamaan dan pengagungan hari Jumat adalah Ka’ab bin Lu’ay, salah satu leluhur Nabi Muhammad.

Menurut beberapa catatan sejarah Islam klasik, Ka’ab bin Lu’ay sering mengumpulkan masyarakat Quraisy pada hari tersebut untuk memberikan nasihat dan peringatan tentang kedatangan nabi akhir zaman.

Meskipun riwayat ini diperdebatkan tingkat kekuatannya, ia menunjukkan bahwa hari Jumat telah memiliki posisi khusus bahkan sebelum Islam sempurna diturunkan.

Ketika Islam datang, kemuliaan hari Jumat semakin ditegaskan oleh Al-Qur’an. Allah Swt. berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk melaksanakan shalat pada hari Jumat, maka bersegeralah menuju dzikir kepada Allah.” (QS. Al-Jumu’ah: 9)

Ayat ini menjadi salah satu bukti bahwa hari Jumat memiliki kedudukan yang berbeda dari hari-hari lainnya.

Para sahabat memahami bahwa kemuliaan hari Jumat tidak dimulai saat khatib naik mimbar, tetapi sudah dimulai sejak malam sebelumnya.

Di masa Rasulullah, belum ditemukan riwayat yang menunjukkan adanya acara khusus seperti yasinan berjamaah sebagaimana dikenal saat ini.

Namun yang ada adalah semangat memperbanyak ibadah. Para sahabat memanfaatkan malam Jumat untuk shalat malam, membaca Al-Qur’an, memperbanyak dzikir, dan mempersiapkan diri menyambut shalat Jumat.

Tradisi inilah yang kemudian berkembang di berbagai wilayah Islam sesuai budaya masing-masing.

Salah satu tokoh yang memiliki peran besar dalam menyebarkan pemahaman tentang keutamaan Jumat adalah Abu Hurairah.

Beliau meriwayatkan banyak hadis tentang hari Jumat, termasuk hadis yang menjelaskan adanya waktu mustajab untuk berdoa.

Riwayat-riwayat Abu Hurairah menjadi sumber utama bagi para ulama dalam menjelaskan keutamaan malam dan hari Jumat.

Selain Abu Hurairah, sahabat seperti Salman al-Farisi, Abdullah bin Mas’ud, dan Abdullah bin Abbas juga banyak menyampaikan penjelasan mengenai kemuliaan Jumat serta adab-adab yang sebaiknya dilakukan seorang muslim.

Memasuki masa tabi’in dan tabi’ut tabi’in, perhatian terhadap malam Jumat semakin berkembang. Para ulama besar di Madinah, Makkah, Kufah, dan Basrah mulai menyusun kitab-kitab hadis dan fikih yang memuat bab khusus tentang keutamaan Jumat.

Pada masa inilah lahir berbagai pembahasan mengenai amalan-amalan yang dianjurkan sejak Kamis sore hingga Jumat petang.

Tokoh penting yang memperkuat tradisi ini adalah Imam Malik. Dalam lingkungan Madinah, beliau menyaksikan bagaimana para ulama dan penduduk kota Nabi memberikan perhatian khusus kepada hari Jumat.

Tradisi tersebut kemudian tercermin dalam berbagai karya fikih yang menjelaskan adab menyambut Jumat.

Kemudian muncul Imam al-Syafi’i yang sangat berpengaruh di dunia Islam, termasuk Indonesia. Dalam mazhab Syafi’i, dianjurkan memperbanyak doa, dzikir, membaca Al-Qur’an, dan mempersiapkan diri sejak malam Jumat.

Karena mayoritas ulama Nusantara mengikuti mazhab Syafi’i, tradisi menghidupkan Kamis malam Jumat menjadi sangat kuat di Indonesia.

Peran besar lainnya datang dari Imam al-Ghazali. Dalam kitab Bidayatul Hidayah, beliau secara khusus menganjurkan agar seorang muslim memulai persiapan Jumat sejak Kamis.

Menurut beliau, Kamis sore adalah waktu yang sangat baik untuk memperbanyak tasbih, istighfar, dan membersihkan pakaian.

Pemikiran Imam al-Ghazali inilah yang kemudian menyebar luas ke dunia Islam melalui pesantren-pesantren dan lembaga pendidikan Islam tradisional.

Di dunia tasawuf, malam Jumat memperoleh perhatian yang lebih besar lagi. Para ulama sufi memandang malam Jumat sebagai waktu berkumpulnya rahmat Allah.

Banyak majelis dzikir, pembacaan shalawat, dan munajat yang sengaja diselenggarakan pada malam tersebut. Tujuannya bukan sekadar mencari pahala, tetapi melatih hati agar lebih dekat kepada Allah.

Ketika Islam masuk ke Nusantara melalui para wali dan ulama, tradisi Kamis malam Jumat berkembang dalam bentuk yang khas. Para dai tidak menghapus budaya lokal secara total, tetapi mengisinya dengan nilai-nilai Islam.

Dari sinilah muncul tradisi pembacaan Yasin, tahlil, shalawat, pengajian kampung, dan doa bersama pada Kamis malam Jumat. Tradisi tersebut menjadi sarana dakwah yang efektif sekaligus memperkuat ikatan sosial masyarakat.

Perlu dipahami bahwa yang menjadi inti kemuliaan malam Jumat bukanlah tradisi tertentu, melainkan ibadah yang dilakukan di dalamnya.

Tradisi bisa berbeda antara satu daerah dengan daerah lain, tetapi semangatnya tetap sama, yaitu menghidupkan malam dengan dzikir, doa, Al-Qur’an, dan mendekatkan diri kepada Allah.

Kamis malam Jumat memiliki keistimewaan tersendiri dalam tradisi Islam karena menjadi gerbang menuju hari Jumat, yang dikenal sebagai penghulu seluruh hari dalam sepekan.

Para ulama menjelaskan bahwa malam ini merupakan waktu yang tepat untuk mempersiapkan diri menyambut keberkahan Jumat dengan memperbanyak ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Keutamaan malam Jumat juga didukung oleh banyak hadis yang menganjurkan umat Islam untuk memperbanyak doa, karena terdapat waktu-waktu mustajab yang penuh harapan untuk dikabulkan.

Para sahabat dan ulama salaf pun telah mencontohkan kebiasaan mempersiapkan diri sejak Kamis sore dengan memperbanyak istighfar, memohon ampunan, dan membersihkan hati.

Selain itu, malam Jumat menjadi momentum istimewa untuk memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad saw, karena shalawat pada malam dan hari Jumat memiliki keutamaan yang besar.

Umat Islam juga dianjurkan memperbanyak membaca Al-Qur’an, terutama Surat Al-Kahfi, serta mempererat silaturahim dengan keluarga, kerabat, dan masyarakat sekitar.

Dengan demikian, Kamis malam Jumat bukan sekadar pergantian waktu, melainkan kesempatan berharga untuk menjemput keberkahan dan meningkatkan kualitas keimanan.

Jika ditelusuri dari sejarahnya, kemuliaan Kamis malam Jumat bukanlah hasil cerita rakyat atau kebiasaan tanpa dasar.

Ia tumbuh dari kemuliaan hari Jumat yang ditegaskan Al-Qur’an, diperkuat oleh hadis-hadis Rasulullah, diamalkan oleh para sahabat, dijelaskan oleh para imam mazhab, lalu diwariskan oleh para ulama selama lebih dari empat belas abad.

Karena itulah hingga hari ini, ketika azan Magrib Kamis berkumandang, jutaan muslim di seluruh dunia memulai malam mereka dengan doa, dzikir, shalawat, dan harapan.

Mereka percaya bahwa malam itu bukan sekadar pergantian hari, melainkan undangan langit untuk mendekat kepada Allah sebelum datangnya penghulu segala hari: hari Jumat.

*Content Writer Yogyakarta

Tampilkan Lebih Banyak

mpijabar

Akun dari MPI Jawa Barat 2015-2023

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button