
Bandung — Aula Kecamatan Mandalajati bergemuruh oleh semangat baru pada Ahad (26/7/2026). Di ruangan itu, sejarah baru ditorehkan: Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) dan Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) Mandalajati resmi dilantik untuk masa khidmat 2022–2027, membuka lembaran baru perjuangan dakwah di wilayah yang tengah tumbuh pesat ini.
Namun, pelantikan ini jauh dari sekadar seremoni administratif. Ia adalah penegasan sikap—komitmen untuk menghadirkan wajah Islam yang berkemajuan, Islam yang tak berhenti di mimbar, melainkan hidup dalam pendidikan, layanan sosial, dan keteladanan nyata di tengah masyarakat.
Kehangatan persaudaraan begitu terasa sepanjang acara. Jajaran PDM dan PDA Kota Bandung hadir penuh, didampingi perwakilan Kecamatan Mandalajati yang diwakili Sholeh, serta unsur Pimpinan Cabang Persis dan Persistri.
Kehadiran Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama bersama Muslimat NU menjadi bukti nyata bahwa dakwah Muhammadiyah selalu terbuka lebar, merangkul tanpa sekat.
Ditambah lagi hadirnya KOKAM Kota Bandung, PCM Antapani, Forum RW, Karang Taruna Kecamatan Mandalajati, jajaran Pemuda Muhammadiyah, Sekretaris Pemuda Muhammadiyah Wilayah Jawa Barat, hingga para pimpinan ranting—semua berkumpul menyambut kelahiran PCM Mandalajati sebagai kabar gembira bersama, bukan milik satu golongan semata.
Dalam sambutannya, Ketua PCM Mandalajati Agung Gunawan tak menyembunyikan rasa syukurnya yang mendalam. Baginya, pelantikan ini bukan sekadar acara, melainkan perjalanan sejarah yang begitu personal—Mandalajati lahir sebagai pemekaran dari wilayah PCM Antapani, tempat di mana ia sendiri dibesarkan.
“Mandalajati ini adalah pecahan dari Antapani. Saya tahu karena saya asli lahir di sini. Sekarang sejarahnya, alhamdulillah, baru dilantik,” ujarnya, suaranya bergetar penuh haru.
Bagi Agung, angka 77 ribu—jumlah penduduk Mandalajati—bukan sekadar statistik dingin. Di baliknya, ia melihat cakrawala dakwah yang begitu luas terbentang, sebuah ladang subur menanti untuk disemai kebaikan lewat pendidikan, kepedulian sosial, dan penguatan spiritual.
“Ini adalah ladang dakwah kita. Yang tadinya tidak ngaji menjadi ngaji, yang tadinya tidak sekolah menjadi sekolah, yang tadinya putus sekolah menjadi sekolah lagi. Ini adalah ladang amal kita,” tegasnya, matanya berbinar penuh optimisme.
Salah satu kisah yang paling membekas di hati Agung adalah kunjungannya ke Kebumen bersama Ahmad, dalam sebuah penugasan dari Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Bandung.
Di sanalah ia menyaksikan sendiri, dengan mata kepalanya, bagaimana satu Pimpinan Cabang—bila dikelola dengan sungguh-sungguh dan profesional—mampu melahirkan lima rumah sakit yang kini berdiri kokoh melayani umat.
“Ketika saya di Kebumen dengan Pak Ahmad itu banyak menginspirasi kami. Luar biasa, terima kasih kepada PDM yang mengutus kami. Satu PCM bisa membuat lima rumah sakit dan dikelolanya dengan profesional,” ungkap Agung, nada kekagumannya masih terasa hingga kini.
Pengalaman itu, katanya, kini menjelma menjadi bara semangat yang terus menyala di dada seluruh pengurus PCM Mandalajati yang baru dilantik—bukti hidup bahwa usia muda organisasi tak pernah menjadi penghalang untuk bermimpi besar.
Dengan penuh keyakinan, Agung mengajak seluruh kader untuk tidak berkecil hati dengan status PCM Mandalajati yang masih tergolong muda.
Justru sebaliknya, ia menyerukan agar momentum pelantikan ini dijadikan titik tolak untuk berlomba-lomba dalam kebaikan, menghadirkan karya nyata yang bisa langsung dirasakan manfaatnya oleh umat.
Baginya, kunci keberhasilan hanya bertumpu pada tiga hal sederhana namun fundamental: semangat juang yang tak padam, kebersamaan yang erat, dan pengelolaan organisasi yang profesional.
Menutup sambutannya, Agung mengajak hadirin merenungi kembali ruh dakwah yang diwariskan sang pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan—bahwa dakwah sejati tak pernah cukup dengan rangkaian ceramah, melainkan hidup dalam aksi dan keteladanan sehari-hari.
“Kalau kata Kiai Haji Ahmad Dahlan, bukan hanya kata-kata saja, tetapi dengan perilaku,” pungkasnya, mantap.
Ia pun mengajak seluruh pengurus PCM dan PCA Mandalajati periode 2022–2027, organisasi otonom Muhammadiyah, hingga seluruh elemen masyarakat untuk bergandengan tangan, bahu-membahu membangun persyarikatan yang semakin maju dan berkemajuan.
Dengan semangat yang dipetik dari pengalaman daerah lain, sebuah harapan besar kini tertanam: PCM Mandalajati akan terus bertumbuh, mekar, dan memberi kontribusi yang kian besar bagi masyarakat Kota Bandung.***







