Kabar PersyarikatanKolom

Ketika Denting Sendok Lebih Bising daripada Jeritan Kelaparan

Oleh: Ir H Zen Zainul HP CWC CHt*

“Refleksi atas Empati, Kesalehan, dan Tanggung Jawab Kemanusiaan dalam Pesan Abadi Jalaluddin Rumi”

Suatu hari saya membaca sebuah ungkapan dari Jalaluddin Rumi yang begitu sederhana, tetapi terasa seperti mengetuk pintu hati dengan sangat keras:

“Musik yang paling haram adalah suara sendok dan garpu di meja orang kaya, sementara tetangganya kelaparan.”

Kalimat itu membuat saya terdiam cukup lama. Bukan karena membahas musik, melainkan karena membahas kemanusiaan.

Di zaman sekarang, kita sering menghabiskan banyak energi untuk memperdebatkan sesuatu yang berada di pinggir, sementara lupa melihat persoalan yang berada tepat di depan mata.

Kita sibuk memperbincangkan apa yang boleh dan tidak boleh, tetapi terkadang lalai bertanya: apakah ada orang di sekitar kita yang sedang membutuhkan pertolongan?

Rumi mengajak kita melihat agama dari sudut pandang yang lebih dalam. Baginya, persoalan terbesar bukanlah bunyi alat musik, melainkan bunyi ketidakpedulian.

Bukan suara gitar atau seruling yang mengusik langit, melainkan suara kemewahan yang dipertontonkan ketika ada orang lain yang sedang menahan lapar.

Bayangkan sebuah lingkungan. Di satu rumah, meja makan penuh dengan berbagai hidangan. Gelak tawa terdengar. Sendok dan garpu berdenting riang.

Namun, hanya beberapa meter dari sana, ada keluarga yang kebingungan mencari makan untuk hari itu. Ada anak yang tidur lebih cepat agar bisa melupakan rasa lapar.

Ada orang tua yang berpura-pura kenyang agar makanan yang sedikit dapat diberikan kepada anaknya.

Dalam situasi seperti itu, dentingan sendok dan garpu tidak lagi sekadar suara makan malam. Ia berubah menjadi simbol ketimpangan.

Ia menjadi suara yang mengingatkan bahwa sebagian manusia hidup dalam kelimpahan, sementara sebagian lainnya berjuang mempertahankan martabatnya.

Sesungguhnya, kemewahan bukanlah kesalahan. Kekayaan juga bukan dosa. Islam bahkan mengajarkan umatnya untuk bekerja keras, menjadi produktif, dan mencapai kesejahteraan.

Namun, kekayaan kehilangan maknanya ketika tidak melahirkan kepedulian. Kelimpahan menjadi hampa ketika tidak diiringi rasa empati.

Di sinilah letak keindahan pesan Rumi. Ia tidak mengajak kita membenci orang kaya. Ia mengajak orang yang memiliki kelebihan untuk lebih peka.

Sebab ukuran kemuliaan seseorang tidak hanya terletak pada apa yang ia miliki, tetapi pada seberapa banyak manfaat yang ia berikan kepada sesama.

Kadang-kadang kita berpikir bahwa membantu orang lain harus dengan sesuatu yang besar. Padahal, tidak selalu demikian.

Menyapa tetangga yang sedang kesulitan, mengirimkan makanan kepada keluarga yang membutuhkan, membantu biaya pendidikan seorang anak, atau sekadar mendengarkan keluh kesah seseorang yang sedang menghadapi masalah, semuanya adalah bentuk ibadah yang sangat bernilai.

Dunia hari ini sebenarnya tidak kekurangan orang kaya. Dunia juga tidak kekurangan orang pintar. Yang sering kali kurang adalah orang yang mampu merasakan penderitaan orang lain sebagai bagian dari penderitaannya sendiri.

Empati adalah musik yang paling indah. Ia tidak membutuhkan alat musik, panggung megah, atau pengeras suara. Ia hanya membutuhkan hati yang hidup.

Ketika empati hadir, kekayaan menjadi berkah. Jabatan menjadi amanah. Ilmu menjadi cahaya. Dan kehidupan menjadi lebih bermakna.

Mungkin karena itulah para sufi selalu menekankan bahwa perjalanan menuju Tuhan tidak hanya dilakukan dengan sujud yang panjang, tetapi dengan tangan yang ringan membantu sesama.

Sebab Tuhan tidak hanya hadir di dalam rumah ibadah, tetapi juga dalam air mata orang yang membutuhkan pertolongan.

Pada akhirnya, pesan Rumi mengingatkan kita bahwa kesalehan bukan hanya soal apa yang kita hindari, melainkan juga tentang apa yang kita lakukan untuk orang lain.

Bukan hanya tentang menjaga hubungan dengan langit, tetapi merawat hubungan dengan bumi.

Maka sebelum menikmati segala nikmat yang ada di hadapan kita, mungkin ada baiknya sesekali menengok ke sekeliling. Barangkali ada tetangga yang membutuhkan uluran tangan.

Barangkali ada sahabat yang sedang kesulitan. Barangkali ada keluarga yang sedang menunggu bantuan tanpa pernah berani meminta.

Karena sesungguhnya, bukan suara musik yang paling mengganggu kemanusiaan. Yang lebih menyayat hati adalah ketika suara kemewahan terdengar nyaring, sementara jeritan mereka yang membutuhkan tidak lagi kita dengar.

Semoga kita tidak menjadi orang yang hanya pandai mensyukuri nikmat, tetapi juga mampu membagikannya. Sebab rezeki yang paling indah bukanlah yang kita habiskan sendiri, melainkan yang membuat orang lain ikut merasakan kebahagiaan.

Dan ketika kepedulian hidup di tengah masyarakat, setiap dentingan sendok dan garpu tidak lagi menjadi simbol ketimpangan, melainkan pertanda bahwa nikmat telah dibagi, rasa syukur telah diwujudkan, dan kemanusiaan masih memiliki tempat yang terhormat di hati kita.

*Ketua LSBO PDM Kota Bekasi, seniman kemerdekaan, penulis lagu dan vokalis TekSas UI Band, peraih Rekor MURI bidang seni, serta Founder Quantum FRESh.

Tampilkan Lebih Banyak

mpijabar

Akun dari MPI Jawa Barat 2015-2023

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button