Kabar PersyarikatanKolom

Rahmat yang Menenangkan, Omongan yang Melelahkan

Oleh: Ruli Alqodri Mustafa*

Di zaman sekarang, hidup sering terasa seperti panggung besar. Apa pun yang kita lakukan seolah selalu ada yang menilai. Ketika kita berbuat baik, ada yang mencibir.

Saat kita diam, ada yang salah paham. Bahkan ketika kita sedang berjuang memperbaiki diri, masih saja ada komentar yang membuat hati menjadi lelah.

Tidak sedikit orang akhirnya hidup bukan demi kebenaran, melainkan demi penilaian manusia. Mereka takut dicemooh, takut tidak dipuji, takut dianggap gagal. Padahal, semakin kita mengejar validasi manusia, semakin jauh ketenangan itu pergi.

Islam mengajarkan sesuatu yang sangat menenangkan: fokuslah pada rahmat Allah, bukan pada komentar manusia.

Rahmat Allah ibarat lautan luas yang tidak pernah kering. Sementara penilaian manusia hanyalah ombak kecil yang datang dan pergi.

Hari ini seseorang memuji, besok bisa jadi ia mencela. Hati manusia mudah berubah. Karena itu, menggantungkan kebahagiaan pada ucapan manusia hanya akan membuat jiwa mudah rapuh.

Sebaliknya, orang yang menggantungkan harapan kepada Allah akan memiliki ketenangan yang berbeda. Ia sadar bahwa hidup ini bukan perlombaan mencari tepuk tangan manusia, melainkan perjalanan mendekat kepada Sang Pencipta.

Allah bahkan melarang hamba-Nya berputus asa dari rahmat-Nya. Seberapa jauh pun seseorang merasa tersesat, pintu ampunan selalu terbuka. Inilah kasih sayang Ilahi yang sering kali terlupakan di tengah kerasnya penilaian sosial.

Kadang-kadang kita terlalu sibuk mendengar suara manusia sampai lupa mendengar bisikan harapan dari langit.

Ada orang yang berhenti berbuat baik hanya karena satu komentar buruk. Ada yang mundur dari langkah hijrahnya karena takut dianggap sok alim. Ada pula yang kehilangan percaya diri karena terus membandingkan dirinya dengan kehidupan orang lain.

Padahal, komentar manusia tidak pernah menentukan takdir kita. Omongan mereka tidak mampu menambah rezeki, tidak bisa mengurangi umur, dan tidak dapat menghalangi rahmat Allah jika memang Allah menghendakinya.

Karena itu, yang paling penting bukan bagaimana manusia memandang kita, tetapi bagaimana Allah menilai niat dan usaha kita.

Hidup yang sehat adalah hidup yang terus bertumbuh. Bukan sibuk mencari pujian, melainkan sibuk memperbaiki diri. Dalam Islam, fokus pada perbaikan diri justru menjadi tanda baiknya kualitas keimanan seseorang.

Orang yang dewasa secara spiritual tidak akan terlalu sibuk mengurusi penilaian orang lain, karena ia tahu bahwa perjalanan hidup setiap manusia berbeda.

Filosofi kehidupan mengajarkan bahwa pohon yang berbuah lebat justru paling sering dilempari batu. Semakin seseorang berusaha menjadi baik, semakin besar kemungkinan ia diuji oleh komentar dan prasangka.

Namun, pohon itu tetap memberi buah. Ia tidak berhenti tumbuh hanya karena lemparan manusia.

Begitu pula seharusnya manusia menjalani hidup.

Tetaplah menjadi pribadi yang bermanfaat meski tidak semua orang menyukai kita. Tetaplah berjalan di jalan kebaikan meski tidak selalu mendapat tepuk tangan.

Sebab pada akhirnya, hidup bukan tentang menjadi sempurna di mata manusia, melainkan menjadi hamba yang terus berusaha di hadapan Allah.

Allah berfirman: “Kalau bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu, niscaya tidak seorang pun di antara kamu bersih selama-lamanya.” (QS. An-Nur: 21)

Ayat ini mengingatkan bahwa semua kebaikan dalam diri kita sejatinya lahir karena rahmat Allah. Bukan karena kita hebat, bukan pula karena manusia memuji kita.

Maka, ketika hati mulai lelah oleh omongan orang, kembalilah mengingat satu hal: rahmat Allah jauh lebih penting daripada penilaian manusia.

Sebab hati yang dekat dengan Allah akan selalu menemukan alasan untuk tenang, bahkan di tengah dunia yang gemar menghakimi.

*Penulis adalah kolumnis, pemerhati sosial dan ekonomi, Founder The TwinsPrime Economics Studies – Cilegon

Tampilkan Lebih Banyak

mpijabar

Akun dari MPI Jawa Barat 2015-2023

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button