
Bandung – Selama ini banyak orang merasa tugasnya selesai begitu sampah diangkut dari depan rumah. Padahal, persoalan sesungguhnya baru saja dimulai.
Di Tempat Pembuangan Akhir (TPA), tumpukan sampah organik yang membusuk tanpa oksigen diam-diam menghasilkan gas metan—salah satu gas rumah kaca paling berbahaya yang berkontribusi hingga 25 persen terhadap percepatan pemanasan global dari sektor limbah.
“Masalah sampah tidak selesai di TPA. Justru di sanalah masalah besar dimulai,” tegas dosen Prodi Bioteknologi dan Kepala Pusat Penelitian Lingkungan Hidup Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Luthfia Hastiani Muharam saat menjadi narasumber webinar Hari Lingkungan Hidup Sedunia “Tuntas Sampah dari Rumah” pada Sabtu (06/06/2026).
Luthfia menjelaskan bahwa pola pengelolaan sampah yang selama ini berlaku, yakni kumpul, angkut, buang, merupakan sistem linear yang sudah terbukti tidak mampu menyelesaikan masalah.
TPA di berbagai kota kian penuh, menghasilkan bau menyengat, polusi air lindi, hingga ancaman serius bagi kesehatan warga di sekitarnya.
Dia mendorong masyarakat untuk beralih ke sistem sirkular, yakni sampah tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang harus dibuang, tetapi sebagai sumber daya yang bisa diolah kembali.
“Di Jawa Barat, sekitar 70 persen sampah rumah tangga adalah organik. Bayangkan potensinya jika semua itu diolah menjadi kompos, bukan dibuang ke TPA,” ujar Luthfia.
Menurut Luthfia, kunci dari pengelolaan sampah yang efektif adalah pemilahan sejak dari sumber, yakni langsung di rumah tangga.
Dia pun menyarankan masyarakat untuk memisahkan sampah ke dalam tiga kategori utama, yaitu organik, anorganik, dan residu.
Sampah organik seperti sisa makanan dan dapur dapat langsung dikomposkan di rumah. Sementara itu, sampah anorganik yang masih bersih, misalnya botol plastik, kertas, kardus, bisa disetor ke bank sampah dan mendatangkan nilai ekonomi bagi keluarga.
Salah satu sorotan menarik dalam paparannya adalah pengenalan oktagonal komposter. Yakni sebuah teknik pengomposan inovatif yang dirancang agar praktis digunakan di rumah sekalipun dengan lahan terbatas.
Komposter berbentuk keranjang bulat ini dilapisi kardus dan diisi dengan campuran sabut kelapa serta residu pengomposan magot sebagai media pengurai.
Kombinasi bahan alami ini terbukti efektif menyerap bau, mencegah proses fermentasi anaerob, sekaligus mempercepat dekomposisi sampah organik menjadi kompos matang hanya dalam 2–4 minggu.
“Banyak orang tidak mau mengompos karena takut bau. Namun, dengan media yang tepat, itu bisa diatasi,” jelas Luthfia.
Satu hal yang kerap menjadi kekhawatiran masyarakat soal pengomposan adalah kemunculan magot, yakni larva lalat hitam (black soldier fly) yang sering dianggap menjijikkan. Luthfia meluruskan persepsi keliru ini.
Menurutnya, kehadiran magot justru merupakan tanda keberhasilan proses pengomposan. Larva ini bekerja sebagai pengurai alami yang sangat efisien dalam mengonsumsi sampah organik secara cepat.
“Magot bukan sesuatu yang harus ditakuti atau dihindari. Mereka adalah aktor alami yang justru membantu proses pengomposan berjalan lebih baik,” tegasnya.
Untuk mendukung efisiensi pengolahan, tim peneliti UM Bandung bahkan telah mengembangkan mesin pencacah sampah berkapasitas 20 kilogram yang mengubah sampah organik menjadi bubur halus.
Ini adalah bentuk yang jauh lebih mudah dan cepat diurai oleh magot ataupun mikroorganisme pengompos.
Pentingnya kolaborasi
Luthfia menekankan bahwa solusi masalah sampah tidak melulu soal teknologi canggih. Dia justru melihat kolaborasi komunitas sebagai kunci yang sering diremehkan.
Berbagai program bank sampah dan pengomposan komunal yang sudah berjalan di tingkat RW, sekolah, hingga kampus membuktikan bahwa ketika warga bergerak bersama, hasilnya nyata.
Lingkungan jadi lebih bersih, warga lebih berdaya, dan ekosistem ekonomi sirkular pun terbentuk secara organik.
“Perubahan terbesar dimulai dari hal paling sederhana, misal memilah sampah di dapur kita sendiri. Jika setiap rumah tangga melakukan itu, beban TPA bisa berkurang drastis, emisi gas metan turun, dan kualitas hidup kita semua membaik,” pungkasnya.
Webinar ini menjadi pengingat bahwa persoalan sampah adalah tanggung jawab bersama. Bukan hanya urusan pemerintah atau petugas kebersihan. Mulai dari rumah, setiap individu punya peran nyata dalam menjaga bumi tetap layak huni.***







