
Bandung – Ketika lampu auditorium mulai meredup dan nada pertama mengalun dari atas panggung, suasana seketika berubah.
Bukan sekadar pertunjukan musik, melainkan sebuah perayaan perjalanan. Perjalanan tentang proses, persahabatan, ketekunan, dan mimpi yang tumbuh bersama dalam harmoni.
Sabtu (13/06/2026), Auditorium KH Ahmad Dahlan Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung dipenuhi alunan suara yang berpadu indah dalam Konser Resital ke-6 dan Pengukuhan Anggota Angkatan ke-18 Paduan Suara Mahasiswa (PSM) UM Bandung.
Mengusung tema “Senandhika Harsakala: Perjalanan Metamorfosa Harmoni”, konser ini menjadi ruang bagi para anggota untuk merayakan perjalanan panjang yang telah mereka tempuh bersama.
Di atas panggung, setiap nada yang dinyanyikan terasa seperti potongan kisah. Ada cerita tentang latihan yang berlangsung hingga malam, tentang rasa lelah yang berubah menjadi semangat, serta tentang keberanian untuk terus bertumbuh dalam balutan musik.
Konser yang berlangsung meriah tersebut tidak hanya menjadi ajang menampilkan kemampuan vokal terbaik para anggota PSM UM Bandung.
Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi penanda lahirnya generasi baru melalui pengukuhan anggota Angkatan ke-18 yang akan melanjutkan jejak organisasi yang telah bertahan dan berkembang selama bertahun-tahun.
Ketua Panitia Afnan Yasfi Nugroho berharap tema yang diangkat mampu menjadi pengingat bahwa paduan suara bukan hanya tempat belajar teknik bernyanyi, melainkan ruang untuk belajar bekerja sama, menghargai proses, dan menumbuhkan kreativitas.
“Semoga PSM dapat menjadi wadah yang inspiratif bagi anggota baru untuk berkembang dan berkarya,” ujarnya.
Di balik suksesnya penyelenggaraan konser, terdapat puluhan orang yang bekerja tanpa banyak terlihat di atas panggung. Sebanyak 30 calon anggota mengikuti proses pengukuhan, didukung oleh 42 panitia dan 15 relawan yang selama berbulan-bulan mencurahkan tenaga dan pikirannya demi mewujudkan acara tersebut.
Bagi Ketua PSM UM Bandung Fadya Fitri Febrianti A konser ini merupakan buah dari perjalanan panjang yang dijalani bersama seluruh anggota.
Ia mengaku bangga melihat bagaimana setiap anggota mampu menunjukkan dedikasi dan semangat yang luar biasa selama proses persiapan.
“Jadikan PSM sebagai rumah yang hangat dan nyaman. Bukan hanya tempat bernyanyi, tetapi rumah kedua untuk bertumbuh bersama,” tuturnya.
Ucapan itu terasa begitu dekat dengan suasana yang tercipta malam itu. Sebab bagi banyak anggotanya, PSM bukan hanya organisasi mahasiswa.
Ia adalah ruang pertemuan berbagai karakter, tempat belajar saling mendengarkan, sekaligus rumah yang menyatukan banyak mimpi dalam satu harmoni.
Pembina PSM UM Bandung, Agung Tirta Wibawa, mengingatkan bahwa organisasi ini telah menempuh perjalanan panjang bahkan jauh sebelum UM Bandung berdiri. Selama 16 tahun, PSM terus menjaga eksistensinya sebagai ruang berkesenian yang tumbuh bersama perkembangan kampus.
“Ini perjalanan yang luar biasa. Kini para anggota mampu berkembang dan berlatih secara mandiri. Hal itu menunjukkan kedewasaan organisasi yang terus tumbuh dari generasi ke generasi,” katanya.
Apresiasi juga datang dari Plt Kepala Bagian Kemahasiswaan dan Pengembangan Karier UM Bandung, Rikki Maulana Yusup.
Menurutnya, kampus tidak hanya menjadi tempat mengejar prestasi akademik, tetapi ruang untuk mengembangkan minat, bakat, dan karakter mahasiswa.
Malam itu, musik menjadi bahasa yang mampu menyatukan semua orang di dalam ruangan. Lagu-lagu seperti Untukku karya Chrisye, Kita Usahakan Lagi dari Batas Senja, Laskar Pelangi milik Nidji, Manusia Kuat karya Tulus, hingga Melompat Lebih Tinggi dari Sheila On 7 mengalun bergantian, menghadirkan nostalgia, harapan, sekaligus semangat bagi para penonton.
Pada akhirnya, “Senandhika Harsakala” bukan hanya sebuah konser. Ia adalah cermin dari proses metamorfosis yang dialami setiap anggota PSM UM Bandung.
Sebuah perjalanan yang mengajarkan bahwa harmoni tidak lahir secara instan, melainkan tumbuh dari kebersamaan, kesabaran, dan keberanian untuk terus melangkah bersama.
Dan ketika tirai konser perlahan menutup malam itu, yang tersisa bukan hanya tepuk tangan. Melainkan kenangan tentang suara-suara yang berpadu, mimpi-mimpi yang dirawat bersama, dan harmoni yang akan terus hidup dalam perjalanan generasi berikutnya.***







