Gerakan Subuh Mengaji - PW Aisyiyah Jawa Barat

Pentingnya Care Giver Lansia

Ibu dan ayah merupakan dua orang yang paling berjasa dalam hidup kita. Merekalah yang telah merawat kita sejak bayi hingga bisa melakukan semua pekerjaan secara mandiri. Tak ayal, agama Islam memerintahkan setiap pemeluknya agar mencintai dan berbuat baik kepada orangtua sendiri.

Hal tersebut jelas tertuang dalam Q.S Lukman ayat 14: “Dan kami wasiatkan kepada manusia berbuat baik terhadap kedua orang ibu dan bapaknya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua ibu bapakmu, hanya kepada-Ku lah kamu kembali.” (Surat Lukman ayat 14). Hal ini menunjukan bahwa agama Islam sangat menghormati orangtua dan lansia.

Dalam hadist yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad pun Nabi Saw bersabda: “Sesungguhnya termasuk dalam pengagungan kepada Allah Ta’ala adalah memuliakan orang-orang lanjut usia (lansia).”  

Dalam Riwayat lain Rasul juga bersabda: “Bukan termasuk golongan kami mereka yang tidak menghormati orang lanjut usia.” Dari dua hadist tersebut dapat terlihat jelas bahwasanya Islam sangat menghormati orangtua. Oleh karena itulah, kita sebagai umat yang mengaku beragama Islam sudah sepantasnya bersikap sopan dan hormat kepada orang-orang lanjut usia. Minimal kepada kedua orangtua sendiri.  

Menyadari kenyataan itu, lantas bagaimana peran yang bisa kita ambil untuk mendampingi orangtua dan para lansia demi memuliakan mereka?

Lansia pada dasarnya bisa diklasifikasikan menjadi tiga jenis, yakni Pra lansia, Lansia, dan Lansia berisiko. Pra lansia adalah mereka yang berusia 45-59 tahun dan sehat jasmani serta rohaninya. Lansia adalah mereka yang sudah mencapai usia 60-65 tahun tapi masih sehat jasmani dan rohaninya. Lansia berisiko ialah orang yang sudah mencapai 60 tahun ke atas dan mengalami gangguan serta masalah kesehatan

Dari ketiga klasifikasi tersebut kemudian dibagi pula menjadi dua jenis lansia, yaitu lansia produktif dan lansia tidak produktif. Lansia produktif adalah lansia yang sehat jasmani rohani dan masih mampu bekerja dan beraktivitas, sedangkan lansia tidak produktif adalah lansia yang mengalami gangguan kesehatan dan memerlukan bantuan.

Terkadang kita berpikir bahwasanya pemanjaan kepada orangtua adalah sebuah kebaikan. Ketika mereka ingin beraktivitas seperti memasak, membersihkan rumah, atau membuat minum sendiri, seringnya kita cenderung melarang. Larangan tersebut muncul musabab rasa kekhawatiran kita pada orangtua sekaligus pemikiran bahwasanya orangtua sudah saatnya beristirahat dan berbahaya jika terlalu banyak beraktivitas.

Padahal perbuatan tersebut sebenarnya keliru. Yang terjadi orangtua malah menjadi tidak produktif. Berdasarkan penelitian dari hasil lapangan di wisma lansia Aisyiyah di beberapa kota, terbukti bahwa para lansia malah cenderung bahagia ketika mereka bisa beraktivitas selagi mereka mau dan mampu. Banyak larangan malah membuat mereka terkekang dan jatuhnya malah jadi tidak bahagia. Perilaku inilah yang kemudian disebut bullying atau perundungan pada orangtua

Baiknya, tugas kita hanya memantau serta memfasilitasi saja. Biarkan mereka beraktivitas. Tolong mereka memang ketika mereka mengalami kesulitan dan meminta tolong. Dengan demikian, orangtua tersebut akan merasa dihargai, dihormati, dan tak terkekang. Mesti dipahami pula bahwasanya lansia akan lebih bahagia ketika mereka melakukan atau membuat sesuatu, dan “sesuatu” tersebut dapat dinikmati oleh anak-anaknya dibandingkan dengan hanya membiarkan orangtua beristirahat tanpa melakukan kegiatan apa pun.

Pentingnya pendampingan terhadap lansia sebenarnya juga menjadi perhatian utama dari Aisyiyah. Pimpinan Pusat (PP) Aisyiyah melalui Majelis Kesejahteraan Sosial (MKS) Aisyiyah melakukan berbagai kegiatan kepedulian cum kesejahteraan sosial terhadap sesama, salah satunya pada lansia. Kehadiran MKS ini menjadi suatu amal usaha Aisyiyah dalam usahanya mendampingi dan merawat orangtua.

 MKS lewat program “Daycare Lansia” menyusun kurikulum yang dapat memberdayakan lansia menjadi seorang lansia yang produktif. Di sana para lansia dihimpun dalam sebuah komunitas dari pagi sampai siang atau sore hari agar bisa berinteraksi.

Selama berkumpul, mereka diajak dan diajarkan untuk melakukan berbagai kegiatan seru nan sederhana seperti merajut, melukis, memasak bersama, menulis, dan berbagai  kegiatan lainnya. Kegiatan-kegiatan inilah yang kemudian membantu lansia bahagia, terhindar dari kepikunan, dan pada akhirnya terhindar dari golongan lansia tidak produktif. Lalu jika semua kegiatan tersebut selesai, maka para lansia tersebut dikembalikan kembali kepada keluarganya. Hal ini dilakukan agar interaksi antara lansia dengan keluarganya tetap terjaga.

Selain itu, PP Aisyiyah pun berencana akan menggalakan kursus “care giver” pada tahun 2022. Program ini penting dilakukan demi melahirkan orang-orang yang mampu menjadi pendamping dan perawat bagi para lansia. Kesemua hal Ini merupakan bukti bahwa Aisyiyah benar-benar merangkul dan peduli terhadap kondisi umat.

Disarikan dari ceramah Ir. Hj. Siti Asfiyah, MKP, di program “Gerakan Subuh Mengaji (GSM)” Aisyiyah Jawa Barat pada hari Jum’at, 7 Januari 2022.

Tampilkan Lebih Banyak

mpijabar

Akun dari MPI Jawa Barat 2015-2023

Related Articles

Satu Komentar

  1. Kalau melihat wisma harapan asri dibawah yayasan katolik yang berada di banyumanik pelayanannya terhadap lansia sangat baik sehingga banyak orang islam tertarik menjadi penghuninya ….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button