Gerakan Subuh Mengaji - PW Aisyiyah Jawa Barat

Menjadi Generasi Berempati

Memasuki tahun baru, tentunya kita mesti bertransformasi menjadi pribadi yang baru pula, yakni menjadi seorang individu yang lebih baik dari tahun sebelumnya. Hal ini menjadi penting sebab jikalau tahun ini dan hari-hari ke depan kita malah menjadi individu yang sama seperti hari-hari kemarin, niscaya merugilah kita.

Salah satu wujud perubahan yang bisa dilakukan oleh setiap manusia dalam usahanya menjadi seseorang yang lebih baik adalah dengan menjadi orang berempati guna membentuk generasi yang berempati jua. Hal ini penting dan perlu dilakukan.

Manusia pada dasarnya merupakan mahluk yang memiliki dua aspek sekaligus pada dirinya. Kedua aspek tersebut ialah aspek jasmaniah dan ruhaniyah. Hal inilah yang kemudian menjadikan manusia memiliki potensi berhubungan dengan dunia material dan dunia spiritual sekaligus.Namun ada hal penting yang mestilah digarisbawahi terkait dua hal ini, yakni perihal keseimbangannya.

Jikalau satu aspek gencar dikembangkan sedang yang satunya lagi diabaikan, maka jadilah manusia tersebut sebagai manusia bermata satu. Hal ini menandakan bahwasanya kedua aspek yang melekat dalam diri manusia ini wajib hukumnya untuk seimbang. Rohani harus sehat, jasmani pun harus fit.

Kita tidak boleh hanya berfokus pada kesehatan jasmani tapi malah mengacuhkan kesehatan rohani. Pun dengan kesehatan rohani yang tidak bisa terus dipacu tapi luput untuk memperhatikan kesehatan jasmani, misalnya seperti orang yang giat berolahraga tapi malas melaksanakan sholat, ataupun seperti orang yang rajin dzikir tapi khilaf untuk menjaga kesehatan diri dengan berolahraga.

Oleh karena itulah, keduanya mestilah seimbang guna menyongsong diri  menjadi pribadi yang mulia. Sebab bagaimana bisa melahirkan generasi yang berempati jika kesehatan jasmani dan rohaninya nihil?

Selain menyeimbangkan dua hal di atas, untuk membentuk generasi berkualitas, yakni sebuah generasi yang di dalamnya terdapat manusia berjiwa empati besar, mutlak untuk menumbuhkan juga nilai-nilai positif di dalam generasi itu. Nilai-nilai positif baru bisa terwujud jikalau generasi tersebut mampu mengolah empat hal penting, yakni olah hati, olah raga, olah fikir, dan olah karsa.

Pertama, olah hati. Olah hati berkutat seputar keimanan yang ada dalam hati. Olah hati menjadi penting musabab iman berada di dalam hati. Tentu segar dalam ingatan kita bahwasanya nabi bersabda bahwa definisi dari iman yang pertama adalah pembenaran dalam hati. Barulah setelah itu diucapkan dengan lisan, dan diamalkan memlaui perbuatan.

Dari proses olah hati tersebut akan melahirkan kepekaan. Nantinya, kepekaan tersebut alan mewujud pada sifat-sifat seperti sikap empati, takwa, jujur, amanah, adil, dan sifat-sifat mulia lainnya yang bermuasal dari hati. Perlu diketahui, setinggi apapun ilmunya, belum tentu hatinya peka, karena perkara hati tidak berpadupadan dengan otak. Maka dari itu, olah hati menjadi sebuah urgensi untuk dilatih.

Kedua,Olah raga. olah raga menjadi penting karena dapat menopang kita dalam melakukan kebaikan. Akan sulit rasanya untuk fokus melakukan amal sholeh jikalau tubuh ini terus diterpa badai penyakit raga.

Ketiga, Olah pikir. Sebagai seorang beriman, apalagi seorang beriman yang mendambakan bisa menjadi sekaligus menciptakan generasi empati, tentulah diperlukan olah pikir. Olah pikir akan menciptakan pribadi yang kritis, kreatif, inovatif, berpikiran terbuka, dan produktif. Dengan demikian, berbagai sifat tersebut akan mendorong seseorang untuk bisa berempati. Dia tidak hanya peka, tetapi juga mampu menghadirkan solusi guna menolong sesama.

Keempat, Olah karsa. Karsa merupakan daya jiwa yang mendorong seseorang untuk berkehendak. Niat atau insiatif ini tidak tumbuh dengan sendirinya, melainkan harus dipupuk setiap hari. Olah karsa penting agar terhindar menjadi pribadi yang peka, namun kepekaannya tersebut tidak membawanya pada kabaikan karena kepekaannya barulah sampai niat, belum sampai tindakan. Dari olah karsa, kelak lahirlah individu-individu yang suka menolong, saling menghargai, ramah, gotong royong dan berbagai sifat baik lainnya.

Semua hal tersebut jika dilatih dan dipraktikan lama-kelamaan akan mewujud menjadi sebuah kepribadian yang utuh. Kepribadian ini penting untuk dimunculkan karena kepribadian merupakan salah satu formula untuk memunculkan generasi empati. Formula untuk mewujudkan generasi berempati sendiri terdiri dari atas tiga formula, yakni fitrah/bakat, pendidikan, dan kepribadian.

Fitrah atau bakat ialah sesuatu yang memang sudah difitrahkan pada manusia, yaitu iman. Lalu fitrah tersebut dibentuk lagi oleh formula kedua, yakni pendidikan melalui lingkungan yang baik. Lingkungan ini meliputi lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Lalu kedua hal itu disokong oleh kepribadian yang sudah diasah melalui empat jenis olah jiwa diatas. Kesemua proses inilah yang kemudian melahirkan generasi berempati.

Nantinya, wujud atau karakter berempati ini akan diimpelmentasikan dalam tiga ranah, yakni hati (qalbu,) lisan (mewujud dalam bentuk perkataan lemah lebut dan mengandung empati) dan perilaku atau arkan (amalan habluminAllah dan Habluminannas). Jika kesemua hal yang dijelaskan diatas mampu dipraktikan dengan baik, niscaya lahirlah generasi berempati yang pastinya bermanfaat untuk sesama.

Ceramah dari: Prof. Dr Hj. Mashitoh, M. Ag

Tampilkan Lebih Banyak

mpijabar

Akun dari MPI Jawa Barat 2015-2020

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button