Kabar Muhammadiyah Jawa BaratKolom Kader Muhammadiyah Jawa Barat

Mengenal Muhammadiyah Dalam Wajahnya yang Benar

Oleh : HM. Rafani A

Almarhum kang Farid Ma’ruf Noor sering melontarkan pernyataan seperti ini: “Sekarang ini banyak Pimpinan dan anggota Muhammadiyah tidak bisa lagi memahami Muhammadiyah secara utuh sehingga di dalam aktivitas Kemuhammadiyahannya tidak
dapat menampilkan Muhammadiyah dalam wajahnya yg benar”.

Apa yang dirasakan oleh kang Farid (Allahu yarham) di era tahun 1990 an sebetulnya bukan fenomena yang baru. Ketika KH. Ahmad Dahlan mau meninggal pada tahun 1923 dikabarkan beliau sering bersedih dan bahkan hendak menangis, waktu ditanya apa sebab Kiyai merasa bersedih, jawabnya saya melihat gejala Muhammadiyah ini berjalan tidak sesuai dengan relnya maka saya khawatir.

Ketika Ki Bagus Hadikusumo menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Muhammadiyah (1942 – 1953) dirasakan adanya kekaburan di dalam Muhammadiya sebagai akibat dari proses dan dinamika internal setelah 30 tahun berdiri, ditandai oleh 2 hal, pertama terdesak nya jiwa/ruh Muhammadiyah oleh perkembangan lahiriah, kedua, masuknya pengaruh (faham agama, politik, ekonomi dll) dari luar yg tidak sesuai dg pandangan Muhammadiyah.

Yang menarik dari benang sejarah para Tokoh Muhammadiyah periode Assabiqunal awwalun itu cermat mengantisipasi gejala gejala yg akan merugikan Muhammadiyah dengan menyusun berbagai pedoman untuk menangkalnya, sebagai contoh sepeninggal KH Dahlan para penggantinya dengan cepat merumuskan pikiran-pikiran Kh. Ahmad Sehingga menjadi dokumen baku yg berfungsi sbgi kaidah penuntun dlm ber Muhammadiyah, mari kita lihat satu persatu;
1. Periode KH. Ibrahim sbg pengganti KH. Ahmad Dahlan ( 1923-1932) dibentuk Majelis Tarjih yg menghimpun para ulama dan bertugas mengadakan penelitian dan pengembangan hukum Islam. Dari produk produk Majelis Tarjih lah kita bisa mengenal Manhaj Pemikiran Keagamaan Muhammadiyah, dan salahsatu faktor penting kenapa Muhammadiyah bisa diterima masyarakat dengan mudah karena faham keagamaannya yg progresif hasil rumusan/ijtihad para Ulama Tarjih.

2.Periode KH. Mas Mansur (1936-1942). Beliau adalah pembentuk dan pengisi jiwa Muhammadiyah sehingga Muh lebih mantap dan berisi. Pada periode ini dirumuskan “Masalah Lima” yaitu ; masalah DUNIA, AGAMA, QIYAD, SABILILLAH dan IBADAH. juga tidak lama setelah rumusan masalah lima ini keluar, disusun pula “Langkah dua belas”. Sehingga pada periode ini Muhammadiyah betul betul menjadi dinamis dan berbobot.

3. Periode Ki Bagus Hadikusumo ( 1942-1953).
Yang paling spektakuler ialah apa yg ditempuh Ki Bagus Hadikusumo dengan menyusun Landasan Idiologi Muhammadiyah yaitu “MUQADDIMAH ANGGARAN DASAR MUHAMMADIYAH”, yang berfungsi sebagai jiwa dan semangat pengabdian serta perjuangan Persyarikatan Muhammadiyah. Sebagai sebuah idiologi, Mukaddimah Anggaran Dasar menjiwai segala gerak dan usaha Muhammadiyah dan proses penyusunan kerjasama yg dilakukan untuk mewujudkan tujuannya, demikian kata pak Haedar Nasir dalam bukunya “Manhaj Gerakan Muhammadiyah”.

4. Periode AR. SUTAN MANSUR ( 1953-1959).
Pada periode ini lahir yang disebut KHITTAH PALEMBANG , isinya adalah revitalisasi Ruh Tauhid.
5. Periode H. M. Yunus Anis (1959-1962). Lahir pedoman penting yang disebut KEPRIBADIAN MUHAMMADIYAH, konsep awalnya merupakan buah fikir KH. Fakih Usman kemudian disempurnakan oleh sebuah Tim.
6. Periode H.A.R. Fakhruddin (1968-1971), pada periode ini muncul slogan “MEMUHAMMADIYAHKAN KEMBALI MUHAMMADIYAH”. Sebuah usaha untuk mengadakan pembaharuan internal Muhammadiyah dengan merumuskan “MATAN KEYAKINAN DAN CITA CITA HIDUP MUHAMMADIYAH”.

7. Periode pasca pak A.R. Fakhruddin ( KH. Azhar Basyir, Buya Syafi’i Ma’arif, Amin Rais, Din Syamsuddi dan Haedar Natsir) yang boleh dikatakan monumental ialah tersusunnya PEDOMAN HIDUP ISLAMI, sebuah tuntunan kehidupan warga Muh yg cukup konprehensip karena hampir mencakup semua aspek kehidupan, mulai dari kehidupan pribadi, keluarga, organisasi, bisnis dll.
Apa yang dikemukakan di atas, itulah buah fikir yg sangat brilian dari para tokoh Muhammadiyah generasi awal, mereka adalah para pemikir sekaligus praktisi Muhammadiyah ( kalau boleh saya menyebut mereka adalah para Rausyan Fikr nya Muhammadiyah). Karyanya bukan hanya sekedar ungkapan teoritis , tapi betul betul punya daya dorong untuk dipraktekkan secara riil dalam ber Muhammadiyah, jadi tidak sulit bila kita ingin menemukan Muhammadiyah dalam wajahnya yang benar maka ber Muhammadiyahlah dengan cara memahami dan mengamalkan seluruh Pedoman hasil karya para founding Father kita itu.

Bila kita berMuhammadiyah dg mengikuti pedoman baku tadi, Insya Allah kita akan tergolong Kaffah dalam ber Muhammadiyah. Ber Muhammadiyah secara kaffah artinya ber Muhammadiyah secara Intrinsik dimana kita dapat memandang Muhammadiyah sebagai” Comprehensive commitment, juga sebagai driving integriting motive”, dari itu kita bisa merasakan nikmatnya ber Muhammadiyah. Bila tidak demikian maka ber Muhammadiyah kita adalah ber Muhammadiyah secara Ekstrinsik, yaitu memandang Muhammadiyah sebagai sesuatu yang bisa dimanfaatkan, seperti untuk memenuhi kebutuhan akan status, jabatan bahkan dijadikan sebagai batu loncatan. Cara ber Muhammadiyah seperti ini hanyalah mengutamakan bentuk luar, pelakunya tidak akan merasakan nikmatnya ber Muhammadiyah apalagi menunjang terwujudnya Masyarakat Islam yang sebenar benarnya seperti yang dicita-citakan Muhammadiyah.
Wallahu A’lam bishawab.

Tampilkan Lebih Banyak

mpijabar

Akun dari MPI Jawa Barat 2015-2023

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button