
Bandung — Warga Muhammadiyah di Kota Bandung mulai melaksanakan salat tarawih perdana Ramadhan 1447 Hijriah pada Selasa (17/2/2026) malam.
Suasana khusyuk dan penuh antusiasme menyelimuti sejumlah masjid di Kota Bandung, menyusul penetapan 1 Ramadhan oleh Muhammadiyah yang jatuh pada Rabu (18/2/2026).
Di Masjid Al-Irfani, Perguruan Muhammadiyah, Jalan Kadipaten Raya Nomor 4–6, Antapani, jamaah telah berdatangan sejak selepas Magrib.
Area lapangan sekolah di depan masjid dipadati kendaraan roda dua dan empat. Di dalam masjid, saf-saf salat telah tersusun rapi bahkan sebelum waktu Isya tiba.
Nuansa Ramadhan terasa begitu kuat. Masjid dipenuhi jamaah dari berbagai kalangan, mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang tua. Sebagian hadir bersama keluarga, menggandeng anak dan membawa sajadah tambahan untuk digunakan bersama.
Rangkaian ibadah malam itu diawali dengan salat Isya berjamaah. Selanjutnya, kultum menjelang tarawih disampaikan oleh Sekretaris PDM Kota Bandung Entoh Wahyu yang juga bertindak sebagai imam salat tarawih perdana.
Malam pertama tersebut menjadi penanda dimulainya Ramadhan lebih awal bagi warga Muhammadiyah di Bandung.
Salat tarawih di Masjid Al-Irfani dilaksanakan sebanyak 11 rakaat, merujuk pada riwayat dari Siti Aisyah RA bahwa Nabi Muhammad SAW tidak pernah menunaikan salat malam di bulan Ramadhan maupun di bulan lainnya lebih dari 11 rakaat hingga beliau wafat.
Selain di Masjid Al-Irfani, puluhan masjid lain di Kota Bandung juga serentak menggelar salat tarawih pertama.
Hal ini sejalan dengan keputusan Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang menetapkan 1 Ramadhan 1447 Hijriah jatuh pada 18 Februari 2026.
Dalam tausiyahnya, Entoh menyampaikan bahwa Ramadan harus disambut dengan kegembiraan sebagai wujud keimanan.
Kegembiraan itu lahir dari rasa syukur karena Allah SWT masih memberikan kesempatan untuk kembali bertemu dengan bulan suci, serta keyakinan bahwa Allah akan menghapus dosa dan melipatgandakan pahala amal ibadah.
“Selain mempersiapkan iman, kita juga harus mempersiapkan ilmu. Iman dan ilmu akan memengaruhi mentalitas dan cara kita berpuasa, sehingga mengantarkan pada tujuan ibadah, yakni membentuk pribadi yang bertakwa,” ujar Entoh.***







