Kolom

Kembali ke Pesantren

Opini Muhammadiyah Jabar–

Menggembirakan. Dua perhelatan meramaikan muktamar Muhammadiyah dan Aisyiyah di dua PDM diselenggarakan di Pesantren Muhammadiyah.

Satu di PDM Kota Tasikmalaya, satunya lagi di Kabupaten Tasikmalaya. Di waktu yang bersamaan dua PDM menyiarkan muktamar.

PDM Kota Tasikmalaya memusatkan kegiatan di Pesantren Amanah Muhammadiyah. , sementara Kabupaten Tasikmalaya di Pesantren Al Furqon. Dua Pesantren ikonik dari Muhammadiyah di tatar Galunggung.

Lebih menggembirakan lagi, terselip misi literasi di acara tersebut. Di PDM kota Tasikmalaya selain banjir doorprise juga meluncurkan kado muktamar berupa buku yang ditulis oleh 22 kader Muhammadiyah Kota Tasikmalaya. Buku berisi ide genuin demi perkembangan Muhammadiyah di masa depan.

Di Al Furqon, hadir ketua PP Muhammadiyah, Prof. Dr. H. Dadang Kahmad, M.Si. Ketua PP Muhammadiyah yang membidangi Majelis Pustaka dan Informasi.

Pak Dadang berkeliling Indonesia mengajak kader Muhammadiyah untuk masuk dalam ranah digital. Ladang dakwah baru yang belum digarap maksimal kader Muhammadiyah.

Perhelatan yang digelar di pesantren, menegaskan kekhasan Muhammadiyah Jawa Barat dari wilayah lainnya.

Pak Dikdik Dahlan menyampaikan pesan kekhasan ini dalam penyerahan artefak Muhammadiyah di Jawa Barat kepada tim museum Muhammadiyah di Yogyakarta, tiga tahun silam.

Pesantren, kata Pak Dikdik, secara kultural menjadi ruh dalam pergerakan Muhammadiyah di Jawa Barat. Ini pula yang menyebabkan banyak ulama Muhammadiyah di Jawa Barat.

Bahkan dalam muktamar Tarjih, mengamanahkan kepada Jawa Barat untuk mendirikan pesantren kader ulama.

Dari sinilah lahir pesantren Darul Arqam, Garut. Ulama-ulama Muhammadiyah dari Garut dan Tasikmalaya saat itu menjadi guru utama pesantren Darul Arqam.

Mendengar bagaimana para ulama menggelar halaqah mulai dari Garut hingga Singaparna dari Pak Qonit, Rektor Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya, sungguh menggetarkan hati.

Para ulama dengan keluhuran ilmunya berdiskusi tentang beragam hal. Kadang berbahasa Sunda, kadang berbahasa Arab. Mulai dari Kyai Miskun, Kyai Hambali, Kyai Iping, Kyai EZ Muttaqin, Kyai Taufik Ali dan Kyai-Kyai lainnya.

Keilmuan mereka diakui oleh ulama-ulama Muhammadiyah dari provinsi lain, sehingga tidak jarang pendapat ulama Jawa Barat menjadi rujukan.

Kembalinya dua kegiatan di PDM kota dan kabupaten Tasikmalaya di pesantren menegaskan perkembangan Muhammadiyah Jawa Barat tidak lepas dari peran pesantren.

Terlebih di muktamar nanti Jawa Barat mengusulkan agar lembaga pesantren ditingkatkan menjadi majelis sebagai bentuk keseriusan PP Muhammadiyah melahirkan kader-kader ulama.

Momentum kemarin sebagai perwujudan Muhammadiyah Jawa Barat ke depan fokus pada pengembangan pesantren dan melahirkan kader-kader ulama. Tentunya ditandai dengan kepemimpinan yang lahir dari rahim pesantren.

Oleh: Kelik Nursetiyo Widiyanto

Editor: Aqbil WAK

Tampilkan Lebih Banyak

mpijabar

Akun dari MPI Jawa Barat 2015-2020

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button