
Oleh: Nashrul Mu’minin*
Agustus 2025 tidak lagi terasa seperti bulan perayaan. Tak ada sorak sorai kemerdekaan seperti biasanya.
Yang terdengar hanya isak tangis, jeritan pilu, dan suara pecah dari kaca-kaca kantor yang dilempar batu kemarahan.
Dari awal bulan, suasana sudah mencekam. Poster wajah pejabat terpampang di jalanan, bukan untuk dikenang, tetapi untuk diludahi.
Bendera merah putih tetap berkibar, tetapi kali ini warnanya seolah-olah tak lagi murni—merah karena darah rakyat yang tumpah, putihnya ternoda oleh kebohongan dan janji kosong para penguasa.
Tahun ini, rakyat sudah tidak tahan. Dimulai dari kenaikan harga sembako yang melambung tanpa belas kasihan.
Diikuti skandal besar korupsi yang menyeret nama-nama mentereng yang sebelumnya dielu-elukan sebagai “pahlawan reformasi”.
Satu demi satu demonstrasi pecah di berbagai penjuru negeri—dari Jakarta yang panas, hingga Papua yang terluka.
Suara teriakan tak lagi hanya datang dari mahasiswa, tapi juga dari petani, buruh, guru, nelayan—semua merasa dikhianati oleh sistem yang katanya merdeka.
Tanggal 17 Agustus yang seharusnya menjadi puncak rasa bangga, justru menjadi klimaks dari kehancuran moral.
Di banyak daerah, upacara kemerdekaan diboikot oleh warga. Di tengah lapangan yang biasanya jadi tempat upacara bendera, kini menjadi arena protes.
Tangan-tangan menggenggam poster bertuliskan “Kemerdekaan Siapa?” dan “Kami Masih Dijajah, Tapi Oleh Bangsaku Sendiri”.
Di depan gedung pemerintahan, bom molotov dilempar, gas air mata dibalas dengan batu, dan darah kembali jatuh ke aspal. Teriakan “Reformasi Gagal!” menggema seperti alarm yang tak dimatikan.
Akhir Agustus tak membawa jawaban. Yang tersisa hanya luka. Para koruptor belum semua tersentuh hukum.
Banyak dari mereka malah menghilang, entah ke luar negeri atau bersembunyi di balik seragam militer dan jabatannya. Penjabat-pejabat yang seharusnya melindungi rakyat justru sibuk menyelamatkan diri sendiri.
Media televisi dibungkam, tapi media sosial membara. Rekaman-rekaman kekerasan aparat terhadap demonstran viral, membuka mata dunia bahwa Indonesia sedang berdarah di bulan yang seharusnya menjadi simbol kemerdekaan.
Menurut saya, Agustus 2025 adalah bukti bahwa kemerdekaan bisa dirayakan secara simbolik, tapi tidak secara nyata.
Ketika rakyat masih harus berjuang melawan ketidakadilan, kemiskinan, dan pengkhianatan, maka sesungguhnya kita belum benar-benar merdeka.
Tangisan terakhir bulan merdeka adalah peringatan keras bagi bangsa ini—bahwa jika suara rakyat terus diabaikan, maka kehancuran bukan lagi sekadar ancaman, tapi kenyataan.
*Content Writer Yogyakarta