
Oleh: Ace Somantri*
Sebenarnya bukan hal yang luar biasa, apalagi sesuatu yang dahsyat, tentang perbedaan hari raya Idul Fitri di tahun hijriah. Hal demikian biasa saja di tubuh persyarikatan Muhammadiyah.
Persoalan tersebut dinamika pasang surut memahami perkembangan dalam pemikiran keislaman dengan metode dan pendekatan yang relatif sering berubah.
Ini pun bukan inkonsistensi sikap, melainkan sebuah cara lain bersikap konsisten terhadap perubahan zaman. Begitupun dalam menyikapi perbedaan pandangan dan hasil musyawarah dari diskusi dan kajian yang dilaksanakan secara formal.
Lucu dan unik, saat perbedaan hari raya selalu identik dengan ormas Islam Muhammadiyah yang dikesankan relatif negatif dengan opini dan pandangan beberapa elite senantiasa mendahului dan tidak taat terhadap pemerintah.
Fakta dan realitas berkata lain, dinamika persyarikatan Muhammadiyah seiring waktu membuka ruang dialog berbagai generasi, khususnya telah memberi kesan terhadap generasi Z bahwa Muhammadiyah organisasi modern yang lebih maju dari organisasi masyarakat Islam lainnya.
Terlepas diakui atau tidak, faktanya secara sosiologis mereka banyak yang memilih masuk sekolah dan studi lanjut di perguruan tinggi Muhammadiyah.
Sebagaimana terlihat hampir di semua kampus kota-kota besar hampir dipastikan, mereka 80 persen lebih berlatarbelang bukan dari keluarga yang asalnya dari paham dan aktivis Muhammadiyah.
Hal itu sebagai bukti nyata bahwa Muhammadiyah dapat diterima oleh masyarakat tanpa harus memaksa mereka. Begitupun saat perbedaan paham cabang furuiyah secara praktis dalam kaifiyat ibadah ta’abudi.
Bagi Muhammadiyah, selama keyakinan tauhidnya bersumber pada Al-Qur’an dan As-Sunnah, diberikan toleransi, kecuali mereka berikrar secara sukarela mengkader diri menjadi anggota Muhammadiyah.
Spirit kebersamaan
Perbedaan cabang atau furuiyah dalam ibadah, Muhammadiyah memandang sebagai bagian dari dinamika keberagamaan yang tetap harus dirawat untuk saling menjaga dan mentoleransi sehingga ukhwah Islamiyah terbina dengan baik.
Bahkan, ada perkataan motivasi dalam pernyataan yang membangun spirit kebersamaan dalam perbedaan, yakni ungkapan perbedaan di antara umat nabi Muhammad adalah rahmat.
Maka, penting dipahami bersama saat terjadi perbedaan dalam penentuan tanggal pada bulan tahun Hijriyah yang sering muncul ke permukaan. Khususnya saat menentukan 1 Ramadhan dan 1 Syawal atau Idul Fitri.
Umat Islam tidak boleh terjebak dengan narasi-narasi adu domba yang menyesatkan dan menghancurkan nilai-nilai ukhwah. Apalagi narasi tersebut dibuat oleh tokoh sentral umat Islam.
Muhammadiyah berusia cukup dewasa, usianya sudah masuk jauh pada abad kedua. Sikap berpikir dan membuat kebijakan lebih berorientasi pada kemajuan umat manusia, menuju terciptanya masyarakat utama yang sebenar-benarnya.
Jauh sebelum negara ini berdiri, Muhammadiyah pemain utama dalam membangun bangsa dan negara. Sehingga penting bagi negara saat ini tidak ikut terpengaruhi oleh sikap keakuan sebagai pemilik kekuasaan yang memposisikan dirinya yang berkuasa mutlak atas segala hal.
Negara pada dasarnya sebuah ruang untuk membangun peradaban bangsa. Bukan ruang kekuasaan menciptakan kekuatan untuk memenuhi kekuasaan yang berorientasi pada kepentingan golongan dan oligarki.
Jangankan satu keyakinan agama, sekalipun berbeda agama, posisi negara harus memberikan pengayoman dan perlindungan kepada mereka dengan penuh ketulusan dan keadilan yang beradab.
Kita yakin bahwa negara hadir untuk menjaga kedaulatan rakyat. Segala bentuk konstitusi dan regulasi teknis demi untuk keadilan, kesejahteraan, dan peradaban bangsa.
Salah besar jika satu kementerian membuat sebuah regulasi yang mempengaruhi terhadap sikap keberagamaan yang mengintervensi lebih mengarah pada rezimintasi paham agama Islam tertentu.
Hak dan kewajiban warga negara harus taat terhadap konstitusi. Begitupun penyelenggara negara seharusnya lebih taat dari warga negara jika mampu zero violation of law.
Kita menyadari, hal demikian sulit dijalankan karena kita semua sama manusia, sebagai makhluk lemah, terlebih dihadapkan dengan godaan dan rayuan maut yang berdimensi material pragmatis.
Malah justru penyelenggara negara yang terjerat hukum lebih banyak dan mendominasi. Tidak ada ruang tertutup bagi mereka yang berniat jahat untuk mencuri dalam ruang gelap korupsi.
Mereka tidak memilah dan memilih mana yang gratifikasi dan korupsi. Baginya yang penting peti berangkasnya penuh dengan harta duniawi.
Kadang-kadang ruang sensitif keberagamaan menjadikannya sebagai bemper untuk memanfaatkan dan mempolitisasi demi kepentingan kekuasaan sesaat.
Begitipun saat perbedaan Idul Fitri, kadang-kadang oleh segelintir elite agama dan juga politik dijadikan momentum membuat narasi yang penuh sensasi.
Login Muhammadiyah
Di luar dugaan, perbedaan hari raya Idul Fitri tahun ini ada fenomena yang tidak terduga. Muncul hingga viral mengenai sikap generasi Z, di mana ada sebagian anak muda yang kritis dan objektif melihat dinamika keberagamaan warga muslim Indonesia.
Viral dan menjadi narasi yang menyita netizen, istilah “Login Muhamadiyah” di media sosial sehingga membuka dialog nalar generasi milenial dan gen Z hal ihwal penyikapan terhadap perbedaan Idul Fitri.
Pesan dalam narasi tersebut, seolah-olah ada ajakan atau seruan di kalangan Gen Z untuk masuk ke dalam ruang dialektika beragama di Muhammadiyah. Hal itu dipandang oleh mereka bahwa Muhammadiyah satu langkah lebih maju.
Walaupun fenomena ini ada yang menyikapi bahwa jika seandainya benar terjadi eksodus generasi Z berdialektika gagasan dalam paham agama, apakah Muhammadiyah sudah siap dengan berbagai kelemahan dan kekuarangannya?
Dikhawatirkan, saat mereka mengetahui lebih dalam dan memahami lebih jauh, ternyata banyak sikap berpikir dan tindakan yang inkonsistensi terhadap platform gerakan Muhammadiyah.
Dengan segala kekurangan dan kelemahanya, Muhammadiyah harus memiliki sikap terbuka akan kritik dan saran dari mana pun, termasuk di kalangan generasi Z.
Harus disadari, era digital terjadi disrupsi pemikiran yang akan mendorong manusia berpikir rasional dan logis tanpa didominasi oleh sikap emosional yang subjektif.
Muhammadiyah harus membiasakan ruang dialog terbuka dan fleksibilitas sikap dalam wacana pun harus dibangun secara dialektis yang tidak jumud.
Kebenaran “Tarjih Minded” harus menjadi sarana membuka dinamika paham keberagamaan yang kontemporer untuk dijadikan spirit ideologi yang membentuk keberislaman yang maju dan memajukan.
Belajar pada Iran
Kita wajib belajar kepada Iran, negara muslim yang mengalami tekanan dan isolasi masyarakat dunia. Namun, karena sikap intelektual yang dialektis dan konstruktif dari akar ilmu yang jelas dan tegas, mereka mampu menunjukkan sikap dan prinsip yang kuat pada masyarakat dunia.
Mereka mampu berdiri di atas kaki sendiri sehingga membuat masyarakat dunia kaget dan terperangah akan kemajuan perkembangan teknologi perangkat lunak dan keras pada alutsistanya.
Dalam konteks Muhammadiyah, dengan segala kekuatan dan potensi yang dimiliki, untuk tidak terjebak pada narasi-narasi tidak taat pada pemerintah hanya karena berbeda hari raya Idul Fiti. Sikap itu picik dan dungu seperti masyarakat jahiliah.
Muhammadiyah wajib merevitalisasi gerakan keilmuan yang masif dan progresif, tanpa berpangku tangan pada pemerintah dan negara.
Toh sejarah Muhammadiyah tidak lahir dan hidup serta dihidupkan oleh negara. Namun, oleh gagasan dan karya nyata dari buah pikiran yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Dialektika keilmuan Muhammadiyah wajib berorientasi pada penguatan produk inovasi pemikiran yang mampu membangun peradaban. Bukan menciptakan gerakan mekanistik bersifat robotik yang diposisikan sebagai alat atau perangkat yang mudah dikendalikan.
Seharusnya, gerakan keilmuan Muhammadiyah menstimulasi pemerintah untuk mengubah paradigma negara yang berdaulat secara integratif dan holistik seluruh bidang dan aspek kehidupan. Wallahu’alam.
*Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Barat







