Kabar PersyarikatanKolom

Ada Apa di Muhammadiyah?

Oleh: Ace Somantri*

Hampir dipastikan semua simpatisan, warga, anggota, dan pimpinan Muhammadiyah mengalami fase awal mengetahui dan mengenal Muhammadiyah, baik karena faktor genealogis maupun ideologis.

Asing dan tak banyak mengetahui bagi orang kampung atau wong ndeso pada umumnya mendengar nama Muhammadiyah. Kecuali mungkin di daerah tertentu merupakan tempat awal mula gerakan dan lahirnya Muhammadiyah, seperti di Yogyakarta atau daerah-daerah tertentu yang memiliki historis yang sama.

Muhammadiyah hanya sebuah organisasi sosial kemasyarakatan Islam, dilahirkan oleh Kiai Ahmad Dahlan dari spirit kepekaan dan kepedulian terhadap dinamika kehidupan masyarakat yang memprihatinkan dan memilukan.

Dia menganggap hal tersebut diakibatkan kondisi masyarakat yang jauh dari ilmu pengetahuan, sehingga hidup dan kehidupannya dipengaruhi oleh kemampuan dan wawasan logika dan nalarnya di bawah standar, lebih extreme.

Sehingga dari miskin dan fakir ilmu pengetahuan, mendatangkan kemiskinan dan kefakiran ekonomi dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Akibatnya, secara fisik mengalami pertumbuhan tidak baik karena tidak terpenuhi gizi dan nutrisi dan mempengaruhi tingkat kesehatan yang rentan.

Miskin dan fakir memang mendekatkan kepada kekufuran. Wajar bagi seseorang yang kondisi ekonomi sangat melarat dan fakir segala hal untuk berpikir sehat dan suasana batiniah nyaman sulit dipenuhi dengan baik.

Muhammadiyah didirikan oleh Kiai Ahmad Dahlan untuk memberantas kefakiran dan kemiskinan ilmu, ekonomi, dan sosial kemasyarakatan. Beliau nalurinya berkata jujur bahwa hidupnya memiliki tanggung jawab moral terhadap permasalahan masyarakat yang terlihat oleh dirinya.

Hal demikian baginya, bukan sekadar iba yang muncul sebatas rasa, melainkan langsung melakukan tindakan nyata membantu mereka keluar dari ketertindasan akibat kefakiran dan kemiskinannya.

Jadi, pertanyaan di atas ada apa di Muhammadiyah adalah sebuah pancingan bagi siapa pun yang berakal nalar kritis.

Dari generasi ke generasi, pada umumnya warga persyarikatan ada yang dilahirkan atas kesadaran sendiri dengan akal nalarnya. Ada juga yang terpaksa mengikuti karena masuk lembaga atau institusi pendidikan Muhammadiyah, baik itu pondok pesantren maupun sekolah yang langsung diselenggarakan oleh persyarikatan.

Terlepas dari itu semua, untuk melihat dalam rangka mengenal dan mengetahui bermuhammadiyah tidak harus melalui satu pintu. Namun, ada yang penting dan lebih afdal bagi siapa pun yang ikut bermuhammadiyah bukan karena organisasi besar dan mapan, melainkan karena kesadaran nalar kritis terhadap dinamika sosial, di mana Muhammadiyah dilahirkan atas dasar tersebut.

Andaikan hari ini ada simpatisan, warga, anggota, apalagi pimpinan saat bermuhammadiyah masih atas dasar emosional subjektif, baik karena ada interest personal ataupun hal lain yang bersifat pragmatis sesaat, hal itu bentuk sikap ahistoris terhadap nilai kesejarahan berdirinya Muhammadiyah.

Begitupun sikap merasa paling paham dalam Muhammadiyah, tetapi faktanya banyak paradoks dari perbuatan yang dilakukannya, bahkan ada pendapat yang lebih kasar, yakni sebagai bentuk pengkhianatan terhadap persyarikatan Muhammadiyah.

Sehingga penting bagi setiap aktivitas untuk mensterilkan diri dari sikap ananiah dalam bermuhammadiyah, yang berorientasi pada diri sendiri karena sudah merasa persyarikatan itu miliknya, padahal milik umat muslim dan siapa pun yang memiliki sikap perubahan.

Di Muhammadiyah ada media ruang gerak beramal kebajikan, nilai historisnya jelas dan tegas. Dibangun dari spirit keberagamaan yang modern dan maju, tidak ada satu pun langkah gerak di Muhammadiyah tanpa ada rujukan nash Al-Qur’an dan As Sunnah.

Dipastikan seluruh pedoman gerakan bersumber pada nash tersebut. Hanya saja yang membedakan saat menafsirkan menjadi rumusan algoritma untuk digunamanfaatkan dalam kehidupan nyata. Bukan sekadar coretan dalam naskah manuskrip yang hanya untuk disimpan pada rak buku atau kitab.

Algoritma tersebut dijalankan berdasarkan kebutuhan prioritas utama. Salah satu di antaranya membuat aplikasi schooling sebagai sarana transformasi pengetahuan dan wawasan umat memiliki akal sehat, sehingga dari pengetahuan tersebut berharap mempunyai daya berpikir kritis.

Di Muhammadiyah sangat banyak ruang untuk berbagai manfaat sekaligus menerima manfaat. Silaturahmi, membangun persaudaraan akan meningkatkan mutu hidup setiap orang, yaitu silaturahmi, kata orang-orang bahwa silaturahmi mendekatkan rezeki dan memperpanjang usia.

Hal itu benar adanya, bukti nyata dan fakta semua orang menyadarinya tanpa menolak. Selain silaturahmi, di Muhammadiyah akan dapat banyak teman dan sahabat. Ada bahasa yang sering terdengar bahwa seribu sahabat terlalu sedikit dibanding satu musuh.

Artinya di Muhammadiyah kita memperbanyak sahabat untuk lebih banyak komunikasi dan interaksi, sementara hindari mendatangkan musuh karena satu musuh akan menghilangkan ribuan manfaat.

Kalau di Muhammadiyah dipastikan ada yang menyenangkan dan membahagiakan, namun juga ada yang menjengkelkan membuat kesal dan bete. Hal itu wajar, justru saat berdinamika dalam organisasi jadikan sebagai bahan pengetahuan dan wawasan kita mengenali jenis dan bentuk, sifat, dan karakter setiap orang.

Sehingga dari pengalaman menghadapi banyak persoalan atau masalah, akan menambah khazanah ilmu pengetahuan dan bahkan keterampilan menyelesaikan masalah (problem solver) dari beberapa kasus yang dihadapi.

Jadi, di Muhammadiyah banyak belajar, menempa diri untuk menguji ketangguhan, kedisiplinan, kepatuhan, dan hal lain yang memproses diri menjadi manusia bermanfaat dan berdampak, baik pada orang banyak di luar diri kita. Kata Rasulullah, manusia berkualitas adalah manusia bermanfaat terhadap manusia lainnya.

Saat kita di Muhammadiyah, pasti ada proses stimulasi pada diri memiliki visi dan misi hidup lebih jauh, baik untuk meningkatkan kualitas diri maupun ikut berpartisipasi mengawal perjuangan organisasi mencapai visi, misi, tujuan, dan cita-cita yang ditetapkan institusi.

Muhammadiyah hadir semata-mata bukan untuk orang-orang yang sekolah atau pesantren di Persyarikatan, melainkan terbuka untuk siapa saja yang ikut membantu mewujudkan cita-cita dan tujuannya.

Bukan ikut tumbuh di dalamnya menjadi parasit yang merugikan Muhammadiyah itu sendiri, membuat tumbuh kembang persyarikatan Muhammadiyah jadi terhambat, monoton, menjemukan, yang diakibatkan karena jalan atau relnya banyak dirusak oleh pemiliknya sendiri, yaitu warga dan anggota pimpinan struktural organisasi itu sendiri.

Pada akhirnya, baik dan buruk persyarikatan Muhammadiyah bergantung pada sikap dan perilaku para anggota, pengurus, dan pimpinan organisasi. Sehingga menjadi penting regenerasi kepemimpinan Muhammadiyah, agar ada transformasi yang dinamis.

Di Muhammadiyah hari ini dan hari esok, memang membuat orang terpikat dan terpesona, dengan puluhan ribu amal usaha yang berderet dari Sabang sampai Merauke, berjajar tanpa terlewati, bahkan menyebrang ke Benua Australia dan Eropa.

Siapa yang tidak tertarik, dipastikan orang sehat jasad dan pikirannya, saat melihat visual persyarikatan Muhammadiyah pasti mengatakan organisasi paling hebat dan maju. Namun, faktanya karena ini di dunia nyata, bukan dalam mimpi, penuh teka-teki yang misterius, tidak sedikit pula mereka di dalamnya menjerit merintih kesakitan menahan sakitnya mendapat perlakuan yang tidak adil.

Semoga yang berminat ikut bermuhammadiyah, siapkan mental spiritual untuk menjaga suasana sikap diri tetap istikamah pada jalan kebaikan, sebagaimana Kiai Ahmad Dahlan banyak berpesan kepada generasinya. Amin. Wallahu’alam.

*Wakil Ketua PWM Jawa Barat

Tampilkan Lebih Banyak

mpijabar

Akun dari MPI Jawa Barat 2015-2023

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button