Kabar Persyarikatan

Krisis Energi Dunia Jadi Alarm, Anwar Abbas Ajak Umat Bangun Kekuatan Bisnis

Bandung – Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Anwar Abbas menyoroti kegelisahan dunia internasional akibat konflik geopolitik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat.

Dia menilai dampak perang tersebut telah merembet ke berbagai sektor kehidupan global, termasuk krisis energi yang memaksa masyarakat di sejumlah negara kembali menggunakan sepeda sebagai bentuk efisiensi, seperti yang terjadi di Bangladesh dan Philipina.

Pernyataan tersebut disampaikan Abbas saat mengisi pengajian Syawal di Auditorium KH Ahmad Dahlan Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung pada Kamis (02/04/2026).

Dalam paparannya, dia menekankan bahwa terganggunya distribusi minyak dunia, khususnya akibat penutupan Selat Hormuz, telah memicu kelangkaan minyak di sejumlah negara.

Abbas menjelaskan, kondisi tersebut berdampak signifikan terhadap perekonomian global.

Lonjakan harga minyak menyebabkan biaya produksi dan distribusi barang meningkat sehingga harga barang menjadi mahal dan daya beli masyarakat menurun.

“Dampak lanjutan dari situasi ini adalah turunnya keuntungan pengusaha, melemahnya investasi, hingga meningkatnya angka pengangguran,” ujarnya.

Menurutnya, jika rantai persoalan ekonomi tersebut tidak tertangani dengan baik, maka akan berujung pada meningkatnya angka kemiskinan dan kriminalitas.

Dia juga menyinggung kebijakan WFH yang baru saja dikeluarkan pemerintah yang dinilai belum berjalan optimal sehingga berpotensi menurunkan produktivitas kerja dan berdampak pada kinerja ekonomi secara keseluruhan.

Dalam kesempatan itu, Abbas turut mengkritisi gambaran ideal negara maju seperti Amerika Serikat yang sering ditampilkan dalam film-film.

Dia mengungkapkan bahwa realitas di lapangan tidak sepenuhnya demikian, dengan masih banyaknya persoalan sosial seperti tunawisma dan penyalahgunaan narkoba di kota-kota besar seperti Los Angeles.

Dia kemudian mengaitkan fenomena tersebut dengan hukum sejarah yang menunjukkan bahwa kejayaan dan kehancuran suatu bangsa bersifat silih berganti.

Mengutip makna surah Ali Imran ayat 140, Abbas menegaskan bahwa tidak ada satu negara pun yang mampu mempertahankan status sebagai kekuatan adidaya secara permanen.

Abbas mencontohkan runtuhnya berbagai peradaban besar di masa lalu, mulai dari Kekaisaran Persia dan Bizantium hingga Dinasti Umayyah, Abbasiyah, dan Utsmaniyah.

Menurutnya, dinamika tersebut menjadi bukti bahwa pusat peradaban dunia akan terus bergeser dari satu kawasan ke kawasan lainnya.

Lebih lanjut, seraya mengutip pendapat para ahli, dia menyebut sejumlah negara yang diprediksi berpotensi menjadi kekuatan baru dunia, seperti Kanada, Chile, Jepang, Malaysia, Australia, hingga Indonesia.

Bahkan, ada pengamat memproyeksikan Indonesia dapat menjadi negara adidaya pada periode mendatang, seiring dengan pergeseran pusat peradaban global.

Namun demikian, Abbas menegaskan bahwa kekuatan suatu negara tidak hanya ditentukan oleh faktor politik atau militer, tetapi juga oleh penguasaan kapital.

“Kelompok yang mengendalikan kapital dan ekonomi memiliki peran besar dalam menentukan arah kebijakan suatu negara,” imbuhnya.

Dalam konteks Indonesia, Abbas menyoroti perlunya penguatan ekonomi umat, khususnya di kalangan muslim yang secara jumlah merupakan mayoritas.

Dia mendorong Muhammadiyah untuk tidak hanya fokus pada sektor pendidikan dan kesehatan.

Namun, berani mengembangkan bisnis dan sektor ekonomi strategis agar mampu menjadi aktor penentu dalam pembangunan bangsa ke depan.

Sebagai langkah konkret, Abbas menyebut keterlibatan Muhammadiyah dalam pengelolaan sumber daya, termasuk sektor pertambangan, sebagai upaya memperkuat kemandirian ekonomi.

Dia menegaskan bahwa pengelolaan tersebut harus dilakukan secara bertanggung jawab dengan tetap memperhatikan kesejahteraan masyarakat dan kelestarian lingkungan.

Di akhir penyampaiannya, Abbas menekankan pentingnya peran perguruan tinggi dalam mencetak generasi entrepreneur.

Dia berharap kampus Muhammadiyah, termasuk UM Bandung, mampu melahirkan lulusan yang tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi pencipta lapangan kerja.

Di samping itu, yang tidak kalah penting juga, kata Abbas, yakni aspek penguatan jejaring dan kemampuan adaptasi terhadap perkembangan zaman menjadi kunci agar institusi pendidikan tetap relevan dan berdaya saing.

Sebagaimana pesan Ali bin Abi Thalib bahwa didiklah generasi anak-anak kita sesuai dengan zamannya.***

Tampilkan Lebih Banyak

mpijabar

Akun dari MPI Jawa Barat 2015-2023

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button