
Cirebon – Irfan Sholahuddin Gozali, kader Muhammadiyah asal Kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, resmi menyelesaikan studi Magister Ekonomi UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon.
Wisuda yang digelar di Hotel Apita Cirebon pada Rabu (26/11/2025) ini tidak sekadar pencapaian akademik. Namun, sebagai penanda penting dari perjalanan kaderisasi berjenjang yang telah dilaluinya selama lebih dari 16 tahun.
Kini, Irfan mengemban amanah sebagai Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Sumber, sebuah posisi yang diraihnya melalui proses panjang dan terukur dalam struktur persyarikatan.
Dimulai dari IPM dan Tapak Suci
Perjalanan Irfan dalam gerakan Muhammadiyah dimulai pada 2009–2010 melalui Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM). Di fase awal ini, ia mengikuti kaderisasi dasar yang membentuk karakter pelajar berakhlak, percaya diri, dan berkomitmen pada nilai-nilai perjuangan persyarikatan.
Masih di masa pelajar, Irfan melanjutkan pembinaan diri melalui Tapak Suci Putera Muhammadiyah (2009–2012). Pengalaman di organisasi bela diri ini memperkokoh kedisiplinan, ketangguhan mental, dan mempersiapkan dirinya sebagai kader penggerak di masa mendatang.
Tahap berikutnya membawa Irfan memasuki struktur kepemudaan. Pada 2014–2018, ia dipercaya sebagai Wakil Ketua Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Kabupaten Cirebon. Dalam posisi ini, ia terlibat aktif dalam program dakwah sosial, pemberdayaan pemuda, dan penguatan jaringan kader di tingkat daerah.
Perjalanan kaderisasi berlanjut di tingkat cabang melalui PCM Sumber dengan berbagai amanah: Wakil Sekretaris (2015–2018), Sekretaris (2018–2023), dan Wakil Ketua (2023–2025). Hingga pada 2025, ia resmi dipercaya sebagai Ketua PCM Sumber untuk memimpin gerakan dakwah, revitalisasi organisasi, dan pengembangan amal usaha di wilayahnya.
Sejak 2023, Irfan juga mengemban tugas sebagai Sekretaris Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) PDM Kabupaten Cirebon. Fokus pengabdiannya meliputi perencanaan sistem kaderisasi berjenjang, penguatan ideologi persyarikatan, dan peningkatan kapasitas sumber daya insani Muhammadiyah di tingkat daerah.
Ilmu sebagai bekal pengabdian
Bagi Irfan, pendidikan tinggi bukan sekadar gelar, melainkan bagian dari proses meningkatkan kualitas pengabdian sebagai kader. “Wisuda ini bukan akhir, tetapi awal amanah baru. Saya ingin ilmu yang saya pelajari bermanfaat untuk Muhammadiyah, khususnya di tingkat cabang dan daerah,” ungkapnya.
Sebagai wujud komitmen memperkuat kontribusi intelektual bagi persyarikatan, Irfan menegaskan rencana melanjutkan studi ke jenjang doktoral (S3) Ekonomi Syariah di kampus yang sama.
Dengan perjalanan yang berlapis dan konsisten, Irfan membuktikan bahwa kader Muhammadiyah tidak dibentuk secara instan, melainkan melalui proses panjang yang terukur dan terarah. Baginya, setiap fase pengabdian bukan sekadar riwayat jabatan, melainkan tahapan pembentukan karakter, integritas, dan kapasitas amanah.
Momentum wisuda ini menjadi inspirasi bagi kader muda Muhammadiyah di seluruh wilayah bahwa kaderisasi berkelanjutan merupakan jalan pengabdian yang ditempuh dengan kesabaran, komitmen, dan kesetiaan pada nilai tajdid.
Muhammadiyah kembali menegaskan pesan penting: ilmu adalah bekal dan pengabdian adalah tujuan. Dari cabanglah masa depan persyarikatan Muhammadiyah dibangun.***BANDUNGMU.COM, Cirebon – Irfan Sholahuddin Gozali, kader Muhammadiyah asal Kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, resmi menyelesaikan studi Magister Ekonomi UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon.
Wisuda yang digelar di Hotel Apita Cirebon pada Rabu (26/11/2025) ini tidak sekadar pencapaian akademik. Namun, sebagai penanda penting dari perjalanan kaderisasi berjenjang yang telah dilaluinya selama lebih dari 16 tahun.
Kini, Irfan mengemban amanah sebagai Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Sumber, sebuah posisi yang diraihnya melalui proses panjang dan terukur dalam struktur persyarikatan.
Dimulai dari IPM dan Tapak Suci
Perjalanan Irfan dalam gerakan Muhammadiyah dimulai pada 2009–2010 melalui Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM). Di fase awal ini, ia mengikuti kaderisasi dasar yang membentuk karakter pelajar berakhlak, percaya diri, dan berkomitmen pada nilai-nilai perjuangan persyarikatan.
Masih di masa pelajar, Irfan melanjutkan pembinaan diri melalui Tapak Suci Putera Muhammadiyah (2009–2012). Pengalaman di organisasi bela diri ini memperkokoh kedisiplinan, ketangguhan mental, dan mempersiapkan dirinya sebagai kader penggerak di masa mendatang.
Tahap berikutnya membawa Irfan memasuki struktur kepemudaan. Pada 2014–2018, ia dipercaya sebagai Wakil Ketua Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Kabupaten Cirebon. Dalam posisi ini, ia terlibat aktif dalam program dakwah sosial, pemberdayaan pemuda, dan penguatan jaringan kader di tingkat daerah.
Perjalanan kaderisasi berlanjut di tingkat cabang melalui PCM Sumber dengan berbagai amanah: Wakil Sekretaris (2015–2018), Sekretaris (2018–2023), dan Wakil Ketua (2023–2025). Hingga pada 2025, ia resmi dipercaya sebagai Ketua PCM Sumber untuk memimpin gerakan dakwah, revitalisasi organisasi, dan pengembangan amal usaha di wilayahnya.
Sejak 2023, Irfan juga mengemban tugas sebagai Sekretaris Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) PDM Kabupaten Cirebon. Fokus pengabdiannya meliputi perencanaan sistem kaderisasi berjenjang, penguatan ideologi persyarikatan, dan peningkatan kapasitas sumber daya insani Muhammadiyah di tingkat daerah.
Ilmu sebagai bekal pengabdian
Bagi Irfan, pendidikan tinggi bukan sekadar gelar, melainkan bagian dari proses meningkatkan kualitas pengabdian sebagai kader. “Wisuda ini bukan akhir, tetapi awal amanah baru. Saya ingin ilmu yang saya pelajari bermanfaat untuk Muhammadiyah, khususnya di tingkat cabang dan daerah,” ungkapnya.
Sebagai wujud komitmen memperkuat kontribusi intelektual bagi persyarikatan, Irfan menegaskan rencana melanjutkan studi ke jenjang doktoral (S3) Ekonomi Syariah di kampus yang sama.
Dengan perjalanan yang berlapis dan konsisten, Irfan membuktikan bahwa kader Muhammadiyah tidak dibentuk secara instan, melainkan melalui proses panjang yang terukur dan terarah. Baginya, setiap fase pengabdian bukan sekadar riwayat jabatan, melainkan tahapan pembentukan karakter, integritas, dan kapasitas amanah.
Momentum wisuda ini menjadi inspirasi bagi kader muda Muhammadiyah di seluruh wilayah bahwa kaderisasi berkelanjutan merupakan jalan pengabdian yang ditempuh dengan kesabaran, komitmen, dan kesetiaan pada nilai tajdid.
Muhammadiyah kembali menegaskan pesan penting: ilmu adalah bekal dan pengabdian adalah tujuan. Dari cabanglah masa depan persyarikatan Muhammadiyah dibangun.***







