Kabar Persyarikatan

Istikamah Setelah Ramadhan Jadi Indikator Keberhasilan Ibadah Puasa

Bandung — Wakil Dekan FAI Universitas Muhammadiyah Bandung Cecep Taufikurrohman menegaskan bahwa perpisahan dengan bulan suci Ramadhan bukan sekadar pergantian waktu, melainkan menjadi ujian keimanan bagi setiap muslim yang telah menjalankan ibadah puasa selama sebulan penuh.

Buya Cecep—sapaan akrabnya—mengajak umat Islam untuk menyambut bulan Syawal dengan penuh rasa syukur, tanpa menghilangkan keharuan saat berpisah dengan Ramadhan.

“Berpisah dengan bulan suci Ramadhan itu tidak mudah. Ada kebahagiaan, tetapi juga ada kesedihan yang mendalam,” ujarnya seperti dikutip dari program Gerakan Subuh Mengaji (GSM) pada Jumat (27/03/2026).

Menurutnya, perpaduan antara rasa bahagia dan sedih tersebut merupakan tanda hidupnya hati seorang mukmin.

Kebahagiaan muncul karena Allah SWT memberikan kekuatan untuk beribadah, sementara kesedihan hadir karena belum tentu seseorang dapat kembali bertemu dengan Ramadhan di tahun berikutnya.

Dia menekankan bahwa seorang mukmin tidak hanya berorientasi pada banyaknya amal yang dilakukan, tetapi lebih penting memastikan apakah amal tersebut diterima oleh Allah SWT.

Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam QS Al-Ma’idah ayat 27 yang menegaskan bahwa Allah hanya menerima amal dari orang-orang yang bertakwa.

Dalam pemaparannya, Buya Cecep juga mengajak umat Islam untuk meneladani generasi terbaik umat Islam yang senantiasa menjaga kualitas amal.

Mereka tidak hanya bersungguh-sungguh dalam beribadah. Namun, terus memohon agar amalnya diterima oleh Allah SWT, sebagaimana nasihat Ali bin Abi Thalib yang menekankan pentingnya diterimanya amal dibanding sekadar pelaksanaannya.

Lebih lanjut, dia menjelaskan bahwa rasa khawatir terhadap amal yang tidak diterima merupakan bentuk kerendahan hati di hadapan Allah SWT.

Hal tersebut sebagaimana disebutkan dalam QS Al-Mu’minun ayat 60 tentang orang-orang yang beramal dengan hati penuh rasa takut karena menyadari akan kembali kepada Tuhan.

Namun demikian, dia mengingatkan bahwa rasa takut tidak boleh berubah menjadi pesimisme. Islam mengajarkan keseimbangan antara rasa takut dan harapan. “Khaufan wa thama’an, takut tetapi tetap optimis, itu yang harus kita jaga,” jelasnya.

Dalam suasana menyambut Syawal, Buya Cecep menuturkan bahwa kegembiraan Idul Fitri merupakan bagian dari ajaran Islam.

Umat Islam dianjurkan mengekspresikan rasa syukur melalui kebahagiaan, mempererat silaturahmi, dan menampilkan sikap terbaik dalam kehidupan sehari-hari.

Dia juga mengutip sabda Rasulullah SAW bahwa amalan yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan secara konsisten meskipun sedikit.

Oleh karena itu, indikator keberhasilan Ramadhan tidak hanya diukur dari ibadah selama sebulan, tetapi dari keberlanjutan amal setelahnya.

Menurutnya, jika seseorang tetap istiqamah dalam kebaikan setelah Ramadhan, hal itu menjadi tanda bahwa ibadahnya diterima.

Sebaliknya, jika kembali pada kebiasaan buruk, maka hal tersebut perlu menjadi bahan evaluasi diri.

Pada akhir penyampaiannya, Buya Cecep mengajak umat Islam untuk senantiasa berdoa agar dipertemukan kembali dengan Ramadhan di masa mendatang.

“Allahumma la taj’alhu akhiral ‘ahdi min shiyamina iyyahu…” (Ya Allah, jangan jadikan Ramadhan ini sebagai Ramadhan terakhir bagi kami).

Dia menegaskan bahwa Syawal sejatinya bukanlah akhir dari ibadah, melainkan awal untuk menjaga konsistensi dalam kebaikan.

“Menjemput Syawal dengan penuh kesyukuran dan kegembiraan menjadi tanda bahwa nilai-nilai Ramadhan benar-benar hidup dalam diri setiap muslim,” tandasnya.***(HMA)

Tampilkan Lebih Banyak

mpijabar

Akun dari MPI Jawa Barat 2015-2023

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button