Kabar Persyarikatan

Islam Menyentuh Semua Aspek Kehidupan, Termasuk Dunia Kerja

Bandung – Wakil Rektor I Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Dr Hendar Riyadi MAg mengingatkan mahasiswa agar senantiasa menanamkan nilai-nilai Islam sebagai pedoman dalam menghadapi tantangan kehidupan dan dunia kerja yang semakin kompetitif.

Pesan tersebut ia sampaikan dalam pembekalan bertema “Prophetic Leadership & Spiritual Refreshment” pada Kamis (28/08/2025) dalam rangkaian kegiatan Baitul Arqam Purna Studi yang diikuti calon wisudawan dan wisudawati UM Bandung.

Hendar menegaskan bahwa algoritma yang dimaksud bukanlah kode digital, melainkan sistem keyakinan, nilai, dan prinsip etis yang membimbing kehidupan manusia secara terstruktur, berulang, dan bermakna. “Islam mengajarkan kita pedoman yang diulang-ulang, terukur, dan penuh makna, bukan hanya untuk ibadah, tetapi untuk seluruh aspek kehidupan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, Muhammadiyah meyakini Islam sebagai agama peradaban (din al-hadharah) sekaligus agama yang mengatur negara (din wa dawlah). Oleh karena itu, prinsip-prinsip Islam menyentuh seluruh dimensi kehidupan, mulai dari pengelolaan negara hingga urusan pribadi sehari-hari. “Kalau urusan negara saja diatur oleh Islam, apalagi urusan pribadi. Semua punya pedoman jelas,” tegasnya.

Dalam pemaparannya, Hendar juga memperkenalkan formula 3IT, yang terdiri atas iman, Islam, dan ihsan. Iman, menurutnya, merupakan keyakinan yang menumbuhkan rasa aman dan amanah. “Iman itu bukan sekadar percaya. Orang beriman harus bisa memberikan rasa aman dan memegang amanah dengan baik,” jelasnya.

Sementara itu, Islam diwujudkan dengan memberikan keselamatan dan kedamaian kepada sesama. “Kalau mengaku muslim, keberadaan kita harus menghadirkan damai, bukan konflik,” ujarnya. Adapun ihsan menjadi landasan untuk menghadirkan kebaikan secara konsisten dalam setiap aspek kehidupan.

Hendar juga menekankan pentingnya empat karakter utama yang harus dimiliki oleh lulusan UM Bandung, yaitu shiddiq (jujur), amanah (dapat dipercaya), tabligh (menyampaikan kebenaran dengan kasih sayang), dan fathanah (bijaksana). “Keempat sifat ini bukan hanya untuk dakwah, tetapi juga untuk membangun kepercayaan, profesionalisme, dan daya saing di dunia kerja nantinya,” katanya.

Selain itu, ia mendorong mahasiswa UM Bandung untuk mengembangkan potensi technopreneurship berbasis nilai-nilai islami dan kemuhammadiyahan. Menurutnya, integrasi teknologi, inovasi, dan kewirausahaan harus disertai prinsip moral serta spiritual agar lahir generasi unggul sekaligus berakhlak mulia.

“Islamic technopreneur itu bukan sekadar soal bisnis, tetapi juga tentang bagaimana menciptakan solusi yang bermanfaat bagi umat,” pungkas Hendar. Tambahan informasi bahwa Baitul Arqam Purna Studi ini digelar oleh LPPAIK sebagai persiapan akhir sebelum para mahasiswa diwisuda pada 7 Sepetmber 2025 mendatang.***(FK)

Tampilkan Lebih Banyak

mpijabar

Akun dari MPI Jawa Barat 2015-2023

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button