
Yogyakarta — Ketua LBSO (Lembaga Budaya, Seni, dan Olahraga) Pimpinan Wilayah Aisyiyah Jawa Barat Ade Kartini menghadiri puncak acara Festival Seni Budaya Aisyiyah (Fesiba) 2025 pada 10 Januari 2026.
Didampingi Koordinator LBSO Susi Indriana, kegiatan tersebut turut diikuti Sekretaris dan Bendahara LBSO PWA Jawa Barat, yakni Nursaydah dan Hertin Nopianti.
Mengenakan baju tradisional khas provinsi masing-masing, puncak acara Fesiba digelar di Aula Saraswati BBPPMPV Seni Budaya DIY di Jalan Kaliurang, Kabupaten Sleman.
Berkebaya hitam dengan karembong rereng serta aksesoris bros angklung tim LBSO PWA Jawa Barat menampilkan ciri khas Jawa Barat yang kental.
Menilik dari pengenaan busana, Ade Kartini mengungkapkan bahwa pakaian tersebut dipilih melalui pencernaan yang matang mengenai filosofi budaya Sunda.
Warna hitam dipilih karena memiliki makna keanggunan, ketangguhan, dan kemewahan. Adapun kebaya sendiri merupakan baju tradisional perempuan Sunda yang dipakai sehari-hari zaman dahulu.
Berselendangkan kain batik rereng yang biasa disebut dengan karembong, melukiskan kepedulian LBSO PWA Jabar akan kearifan lokal kain tradisional batik rereng. Motif batik yang dipilih berjenis rereng eneng, yang tidak hanya menyiratkan asal usul motif tersebut namun lebih pada mendalami maknanya.

“Rereng eneng dipilih karena motif tersebut merupakan motif batik khas Ciamis. Rereng sendiri adalah bentuk batik yang sangat dikenal oleh pecinta batik dan kain tradisional. Rereng merupakan perwujudan dari lereng, yaitu bagian bumi yang biasa terdapat di dataran tinggi sebagai dataran yang banyak terdapat di tatar Sunda khususnya kawasan Priangan Timur,” ujar Ade Kartini.
“Adapun eneng merupakan panggilan kesayangan bagi anak perempuan Jawa Barat yang mengandung makna kesayangan dan kecintaan. Maka dari dua makna di atas dipilihlah karembong motif batik rereng eneng sebagai pelengkap kabaya hitam yang dikenakan,” tukas Ade Kartini.
Melengkapi busana kabayanya, tim LBSO PWA Jabar memaniskan busana dengan penyematan bros angklung. Bros yang terbuat dari bambu tersebut merupakan hasil kriya dari Bandung. Angklung dipilih sebagai ciri khas yang menonjol lainnya sebagai alat musik khas Jawa Barat.
“Kami kenakan pakaian ini sebagai promosi kekayaan ciri khas Jawa Barat sekaligus tidak meninggalkan ciri Aisyiyah, karena kain stelan kebaya yang kami pakai adalah kain seragam nasional Aisyiyah yang biasa dipakai lengkap dengan batik seragam Aisyiyah nasional yang berwarna hijau,” pungkas Ade Kartini tersebut saat memaparkan alasan penggunaan busana di puncak acara Fesiba 2025.
Acara Fesiba sendiri telah digelar selama empat bulan, mulai dari Agustus sampai November 2025 secara daring. Pengumuman dilakukan pada Desember 2025 dan puncak acara di bulan Januari 2026.
Hadir di puncak acara tersebut 17 LBSO PWA se-Indonesia yang masuk pada nominator pemenang dan penerima penghargaan dari LBSO PP Aisyiyah.
Peserta hadir dengan suka cita berbalut busana tradisional khas provinsi masing-masing. Acara semakin semarak dengan suguhan tampilan khas LBSO dari mulai senam bustanul athfal sampai kompilasi tari tradisional tanah air. Gelaran yang dimulai pada pukul 09.00 WIB tersebut selesai di pukul 12.30 WIB dengan penuh ruang gembira.***







