Kabar Persyarikatan

Halal Bihalal Momentum Hijrah Spiritual di Tengah Disrupsi Zaman

Bandung – Rektor Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Herry Suhardiyanto mengajak umat Islam untuk menjadikan momentum Halal Bihalal sebagai ruang refleksi spiritual dan sosial, bukan hanya seremonial tahunan tanpa makna.

Hal tersebut disampaikannya saat menjadi narasumber dalam acara Halal Bihalal di ITB pada Senin (30/03/2026).

Dalam pemaparannya, Herry mengawali dengan mengingatkan makna puasa sebagaimana tertuang dalam Al-Baqarah ayat 183 bahwa tujuan utama Ramadhan adalah membentuk ketakwaan.

Dia menggambarkan bahwa proses ketakwaan bukan sesuatu yang statis, melainkan terus berkembang seiring bertambahnya usia manusia.

Menurutnya, perjalanan hidup dan peningkatan ketakwaan dapat dianalogikan seperti dua spiral dalam ruang tiga dimensi.

Sumbu waktu dan bulan hijriah berjalan beriringan, sementara derajat ketakwaan diharapkan meningkat lebih tajam setiap Ramadhan. “Harapannya, setiap Ramadhan menjadi momentum lonjakan kualitas ketakwaan kita,” ujarnya.

Lebih lanjut, Herry menegaskan bahwa Halal Bihalal tidak sekadar tradisi tahunan, tetapi merupakan proses rekonstruksi spiritual dan sosial.

”Momentum ini menjadi ruang untuk membersihkan hati, memperbaiki hubungan antarsesama, dan menyusun kembali nilai-nilai kehidupan di tengah tantangan dunia modern,” imbuhnya.

Dia menilai, di tengah disrupsi teknologi, kesibukan media sosial, dan fragmentasi sosial, manusia kerap kehilangan nilai-nilai dasar kemanusiaan dan spiritualitas.

Oleh karena itu, dia menekankan pentingnya empat nilai utama yang harus diperkuat, yakni keikhlasan, integritas, kebersamaan, dan kerukunan.

Dalam aspek keikhlasan, Herry menjelaskan bahwa mengagungkan Allah merupakan kebutuhan manusia sebagai bentuk manifestasi tauhid.

Dia mengingatkan bahwa keikhlasan harus dijaga dalam setiap amal. Termasuk dengan menghindari sikap pamer atau mencari pengakuan atas perbuatan baik yang dilakukan.

Selain itu, dia juga menyoroti pentingnya keseimbangan antara berpikir dan mengingat Allah. Menurutnya, ilmu pengetahuan harus dibarengi dengan kesadaran spiritual agar tidak melahirkan kesombongan.

Dia mengingatkan bahwa kesombongan dapat muncul pada siapa saja, baik pada mereka yang memiliki kecerdasan maupun kekayaan.

Bahkan, menurutnya, sikap sombong pada seseorang yang tidak memiliki keduanya justru menjadi ironi yang lebih memprihatinkan.

Dalam konteks kehidupan akademik, Herry menekankan pentingnya integritas sebagai keselarasan antara nilai, ucapan, dan tindakan.

Dia mengingatkan bahwa krisis terbesar saat ini bukanlah kurangnya kecerdasan, melainkan defisit integritas, seperti praktik manipulasi data dan plagiarisme yang harus dihindari.

Sementara itu, pada aspek kebersamaan, dia menegaskan bahwa kekuatan sebuah institusi tidak hanya terletak pada individu hebat, tetapi pada kolaborasi yang solid.

Dia mengibaratkan organisasi sebagai bangunan yang kokoh, di mana setiap individu memiliki peran strategis sebagai bagian dari struktur yang saling menguatkan.

Terakhir, Herry menekankan pentingnya kerukunan dalam kehidupan bermasyarakat yang majemuk.

Dia menyebut bahwa perbedaan adalah keniscayaan, tetapi kerukunan merupakan pilihan yang harus diupayakan. Menurutnya, keadilan menjadi kunci utama dalam menjaga harmoni sosial.

Menutup pemaparannya, Herry mengajak seluruh peserta untuk menjadikan Halal Bihalal sebagai titik awal transformasi diri dan institusi.

“Sejatinya keikhlasan, integritas, kebersamaan, dan kerukunan merupakan fondasi utama dalam membangun peradaban yang kuat dan berkelanjutan,” pungkasnya.***(FA)

Tampilkan Lebih Banyak

mpijabar

Akun dari MPI Jawa Barat 2015-2023

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button